RADAR JOGJA – Bebas kendaraan bermotor di kawasan Malioboro yang bakal diterapkan dan pemberlakuan jalan satu arah di jalur-jalur sirip, banyak dikhawatirkan warga. Hal ini karena salah satunya berdampak terhadap daya beli masyarakat ke toko-toko.

Salah satu ruas yang akan diberlakukan satu arah adalah Jalan Mataram, yakni dari selatan ke utara. “Iya tahu dari berita. Kalau saya sih manut wong hanya karyawan,”  ujar Miko, seorang karyawan di toko Maisy Shoes kepada Radar Jogja Minggu (1/11).

Belum ada sosialisasi secara langsung dari pemerintah maupun tingkat wilayah ke warga toko-toko sekitar. Informasi baru diterima sebatas dari orang ke orang maupun sosial media. “Ya pasti berkurang pengunjung. Otomatis kalau searah, jalur lebih kencang dari ini,”  katanya.

Hal senada dikatakan seorang karyawan toko sepatu lain, Soni. Ia mengatakan, menurut pengalaman di wilayah tempat tinggalnya yakni Jalan Simanjuntak, banyak pedagang mengeluh omzet penjualannya menurun karena sepi pengunjung pasca jalur dibuat satu arah.  “Efeknya sepi, banyak yang bilang begitu. Mudah-mudahan di sini nggak seperti itu,” tandasnya.

Selain Jalan Mataram, rencana Jalan Letjen Suprapto juga diberlakukan satu arah dari utara ke selatan, dimulai dari simpang Badran hingga simpang Ngabean. “Kalau saya keberatan. Kasihan pelanggan saya yang dari arah selatan,”  kata Antung, warga Ngampilan.

Pemilik usaha warung sembako Sari Binangum, tepat di ruas Jalan Letjen Suprapto ini memiliki banyak pelanggan utama dari arah selatan seperti Bantul, Sedayu, dan sebagainya. Biasanya, pelanggannya datang membawa barang-barang dagangan banyak. “Kasihan kalau harus mutar jauh sekali,” tambahnya.

Ia juga mengeluhkan bakal tambah macet jika diberlakukan satu arah. Sebab, menjadi satu-satunya jalan keluar dari arah utara ke selatan sehingga kendaraan berpotensi menumpuk pada satu jalan itu. “Ya mudah-mudaan bisa nggak macet dan lancar, sehingga warung saya nggak jadi sepi,” harapnya. (wia/laz)

 

Jogja Raya