RADAR JOGJA – Tamansari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menjadi salah satu destinasi favorit wisata selama libur panjang akhir Oktober ini. Antrean wisatawan selalu mengular setiap pagi harinya. Penerapan protokol kesehatan Corona Virus Disease 2019 (Prokes Covid-19) dibarengi dengan pembagian rombongan wisatawan dalam kelompok.

Koordinator Lapangan Situs Tamansari Ridwan Syam mengakui adanya lonjakan signifikan. Bahkan jumlah pengunjung hari ini (30/10), melebihi peak season Agustus. Lonjakan tercatat antara 2 hingga 3 kali lipat dibanding peak season sebelumnya.

“Ini sebagai perbandingan jumlah kunjungan sudah mencapai 50 kelompok hingga pukul 11.00. Sementara sehari sebelumnya hanya 20 hingga 30 kelompok di waktu yang sama. Satu kelompok itu isinya bisa 10 orang,” jelasnya, ditemui di kantor pengelola Situs Tamansari, Jumat (30/10).

Ridwan, sapaannya, mengakui jumlah pengunjung telah mencapai ambang batas. Apabila tak ada pembatasan, maka kunjungan bisa meningkat hingga 300 persen. Sementara akibat pembatasan, peningkatan wisatawan hanya kisaran 20 hingga 30 persen.

Pembatasan pengunjung menerapkan sistem jarak antrean setiap 5 meter untuk setiap kelompok wisatawan. Cara ini dinilai lebih efektif dibandingkan penerapan interval waktu. Pembagian pos mencapai 19 titik di seluruh objek wisata Tamansari.

“Tidak pakai interval waktu karena terlalu lama dan berpotensi membuat antrian lebih lama. Apabila sudah masuk gerbang, ditata di gedong sekawan. Lalu kelompok yang diluar bersiap diri untuk masuk. Ini agar physical distancing efektif,” katanya.

Meski demikian pihak pengelola tak mendata wisatawan yang masuk. Alasannya, penolakan QR Code oleh wisatawan. Pendataan dengan sistem digital ini dianggap rentan bocor.

Walau begitu Ridwan mengapresiasi penggunaan Jogja Pass dan Visiting Jogja. Dia menilai pemanfaatan aplikasi tersebut jauh lebih aman. Sayangnya hingga saat ini alat pemindai belum diserahterimakan kepada pengelola Situs Tamansari.

Terkait antisipasi, pihaknya hanya mengandalkan prokes Covid-19 berupa pemeriksaan suhu tubuh setiap calon wisatawan. Apabila melebihi batas normal, maka wajib isolasi atau pulang.

“QR Code ditolak wisatawan, alasannya faktor keamanan data. Kalau yang milik Diskominfo Provinsi DIJ malah bagus dan aman. Tapi masalahnya alat pemindainya belum kami terima,” ujarnya. 

Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi menanggapi adanya penolakan QR Code. Menurutnya pendataan identitas wisatawan sangatlah penting. Langkah ini guna mengantisipasi munculnya kasus atau klaster dalam dunia pariwisata.

Heroe memastikan pemindai dan penyimpanan data aman. Data yang diisi tak selengkap data pada umumnya. Hanya berisikan nama, nomor gawai dan domisili tinggal.

“Sebenarnya tidak perlu seperti itu, QR Code itu agar kami bisa menghubungi balik, jika perlu informasi. Jadi yang penting dilakukan pendataan. Saya pastikan QR Code aman dan praktis daripada mengisi presensi,” katanya. (dwi/tif)

Jogja Raya