RADAR JOGJA – Di Jalan Plosokuning Raya No. 99 Minomartani, Ngaglik, Sleman, berdiri kokoh masjid peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) I. Dan, sampai saat ini masih tetap mempertahankan keaslian bangunannya serta tradisi yang ada.

Ketua Takmir Masjid Pathok Negoro Plosokuning menyebutkan, bangunan itu didirikan sekitar 1756 atau lebih dari 250 tahun lalu.  Masjid ini merupakan bagian desain dari pendirian Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA

“Di tengah ada keraton, di bagian ujung selatan, utara, barat, dan timur itu ada pathok negoro,” katanya kepada Radar Jogja, Rabu (28/10). Yaitu, sebagai penyangga, pendukung sekaligus sebagai pertahanan. “Benteng-bentengnya yaitu berupa masjid sebagai pertahanan waktu itu. Salah satunya Masjid Pathok Negoro ini,”  tambahnya.

Dia menjelaskan, pendirian masjid setelah adanya Perjanjian Giyanti. Yakni peristiwa Kerajaan Mataram Islam dibagi menjadi dua, Solo dan Jogjakarta.

“HB I mendapat wilayah sebelah barat Kali Opak dan wilayah tertentu di Jawa, sehingga perlu pendukung. Kebetulan yang disuruh mendukung adalah kakak HB I sendiri yang berada di Mlangi. Dan, yang di Plosokuning ini cucu dari kakak pertama HB I yakni Mbah Mustofa sebagai pendukung,” jelasnya.

Dikatakan, cucu kakak pertama HB I merupakan imam pertama di masjid itu dan menjadi penasihat negara atau “fathuk”. Dari imam pertama hingga saat ini sudah berganti sembilan kali.  “Nama pathok itu dari itu. Orang-orang biar gampang ngomongnya jadi Pathok Negoro,”  ungkap Kamaludin.

Dia menambahkan, bangunan masjid masih 80 persen bangunan asli. Karena setiap perbaikan sifatnya hanya konservasi dan tidak mengubah bentuk. Bahkan keropos pun masih dipasang jika masih kuat. Bentuk bangunannnya merupakan budaya Jawa.

“Jadi masjid induknya itu joglo, di serambinya limasan. Yang dalam untuk ibadah, yang luar untuk pernikahan, pengajian, untuk musyawarah, dan sebagainnya. Macam-macam, setiap hari aktif 24 jam dan tidak pernah libur,”  tambahnya.

Disebutkan, masjid tidak pernah sepi jamaah. Setiap salat lima waktu ada jamaah yang datang. “Kalau Jumatan sekitar 1.000 orang lebih, ada jamaah yang dari luar juga. Kadang sampai jalan. Kalau hari-hari biasa, 50 sampai 100 orang untuk salat lima waktu,” ungkap Kamaludin. (cr1/laz)

Jogja Raya