RADAR JOGJA – Grebeg Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali ditiadakan. Keputusan ini diambil karena masih adanya pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Alhasil pelaksanaan Garebeg Maulud 1954 digelar dengan cara yang berbeda.

Sebagai ganti upacara tradisional, dilakukan pembagian udhik-udhik dan uba rampe. Pemberian Sri Sultan Hamengku Bawono ka 10 ini ditujukan kepada para abdi dalem. Selain itu, hantaran uba rampe juga dikirimkan ke Kantor Kepatihan Pemprov DIJ dan Kadipaten Pakualaman.

“Berhubung pandemi masih ada sehingga Grebeg Maulud juga seperti ini. Tidak terbuka untuk umum, hanya untuk para abdi dalem saja,” jelas Penghageng KHP Kridhomardowo KPH Notonegoro ditemui di Regol Keben Keraton, Kamis (29/10).

Walau begitu, Kanjeng Noto, sapaannya, memastikan esensi upacara tradisional tidak hilang. Ini karena prosesi pemberian sedekah Raja tetap ada. Bedanya, penerima uba rampe dan udhik-udhik hanya para abdi.

Setidaknya ada 3.000 buah sedekah Raja yang dibagikan. Berupa rengginang yang dibagikan secara merata ke semua abdi dalem kraton. Selain itu ada pula uang logam sebagai pemberian udhik-udhik dari HB ka 10.

“Semua abdi dalem dapat kurang lebih 3000 orang. Ngarso Ndalem (HB ka 10) juga maringi (membagikan) kekucah dalam bentuk  koin logam yang sudah dibungkus satu-satu,” katanya.

Sebelum dibagikan, uba rampe rengginang terlebih dahulu dikeringkan. Proses pembuatan ribuan rengginang ini dilakukan selama tiga hari.

Kanjeng Noto menambahkan, rengginang berbeda dengan hasil bumi. Bahan baku gunungan grebeg ini dianggap tak selalu tersedia. Berbeda dengan hasil bumi yang masih tumbuh subur di sekitar lingkungan.

“Ini kami pilihkan yang poling esensial. Kalau tidak ada grebeg tidak ada yang buat (rengginang). Kalau hasil bumi kan selalu ada, rengginang hanya ada saat Garebeg saja,” ujarnya.

Peniadaan upacara Grebeg bukan hanya kali ini saja. Dua Grebeg sebelumnya yakni Grebeg Syawal dan Grebeg Besar juga tak dihadirkan ke khalayak publik. Pertimbangan utama adalah situasi pandemi Covid-19. 

Tak hanya Grebeg, sejumlah hajad dalem pengiring juga ditiadakan. Seperti prosesi tradisional Miyos Gangsa dan Kondur Gangsa. Walau begitu, diakui oleh Kanjeng Noto beberapa warga tetap datang ke Masjid Agung Kauman maupun Kraton Jogja.

“Semalem memang sudah terlihat warga yang datang bahkan menginap di mesjid (Kauman). Mohon maaf, atas pertimbangan pandemi memang tidak dibuka untuk umum. Kami sepenuhnya patuh terhadap protokol,” katanya. (dwi/tif)

Jogja Raya