RADAR JOGJA – Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi berharap libur panjang pekan ini berdampak positif bagi pelaku usaha. Berupa peningkatan transaksi perekonomian di bidang penginapan, sektor kuliner hingga oleh-oleh.

Heroe memastikan tak ada pelarangan kunjungan wisata, dengan catatan setiap wisatawan wajib mematuhi protokol kesehatan (prokes) Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Langkah ini untuk mengantisipasi hingga meminimalisir sebaran Covid-19 di destinasi wisata.

“Tidak membatasi, tapi protokolnya diterapkan secara disiplin. Berharap roda ekonomi berputar. Misal membelanjakan Rp 100 ribu untuk oleh-oleh. Itu sudah mampu menghidupi 5 jiwa,” jelasnya, Selasa (27/10).

Heroe mendorong warga Kota Jogja turut berperan aktif. Terutama dalam menerapkan prokes Covid-19. Tak hanya demi kepentingan personal tapi kebaikan bersama.

Langkah ini juga untuk memberikan rasa aman dan nyaman. Menurutnya masa liburan di era pandemi sangatlah berbeda. Ini karena ancaman Covid-19 masih ada. Bahkan proses penularan sangat tak terduga.

“Menyambut tamu dengan memberikan prokes dengan maksimal. Mereka datang ke Jogja dengan rasa aman dan nyaman, karena kita melindungi mereka. Caranya dengan menjalankan protokol kesehatan dengan baik,” katanya.

Pihaknya juga menyiagakan personel tambahan. Perannya menjaga dan mengawasi di sejumlah objek wisata. Terutama dalam penerapan prokes Covid-19 di destinasi wisata.

“Penambahan petugas tentu ada, dari Satpol PP, Dishub, Jogoboro dan TNI/Polri. Fokusnya dari Tugu Pal Pautih sampai Kraton. Selalu ada monitoring prokes, jangan sampai dapat sanksi nyapu jalan,” ujarnya.

Ketua DPD PHRI DIJ Deddy Pranowo Eryono menuturkan ada indikasi peningkatan okupansi perhotelan selama libur panjang. Tercatat ada 55 persen okupansi di seluruh penginapan dan hotel di DIJ.

Peningkatan, lanjutnya, didominasi oleh wisatawan asal Jawa Tengah dan sekitarnya. Menyusul kemudian Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta dan wilayah lainnya. Tercatat 70 hingga 80 persen kamar telah terisi atau terpesan.

“Itu hunian dari 28 hingga 30 Oktober. Itupun operasional 70 persen sesuai prokes. Tamu dari zona merah wajib bawa rapid tes. Rata-rata menginap 2 hari. Semoga merata di semua jenis penginapan dan hotel,” katanya.

Tamu, lanjutnya, menunjukan tren baru reservasi. Pemesanan kamar dilakukan di hari kedatangan atau satu hari sebelumnya. Konsep ini berbeda dengan wacana reservasi melalui aplikasi.

Deddy menuturkan ada beberapa hotel yang mengajukan dispensasi. Berupa pembukaan kamar secara penuh. Ini untuk memenuhi permintaan hunian. Tentu dengan syarat penerapan prokes Covid-19 secara ketat. 

“Memang ada yang izin semua kamar dibuka. Saya tak masalah tapi SOPnya itu juga harus jelas. Kalau sudah check out, dijeda libur satu hari. Jangan langsung diisi lagi,” ujarnya.

Dia mencontohkan pelayanan sarapan dengan sistem kuota. Setiap tamu diberikan waktu berbeda. Tujuannya agar tak ada penumpukan tamu saat santap sarapan pagi.

“Sarapan aturannya ada batasan jam dan jumlah atau pilihan antar  ke kamar. Silakan bagaimana penerapannya yang penting prokes jangan lalai,” katanya. (dwi/tif)

Jogja Raya