RADAR JOGJA – Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) berdampak ke seluruh elemen masyarakat. Walau begitu, bukan berarti kepedulian antar sesama pudar. Inilah yang terlihat dalam gerakan Rakyat Bantu Rakyat. Sebuah aksi yang diinisiasi oleh para relawan di Jogjakarta.

Wujud dari gerakan ini adalah pembagian 145 nasi bungkus per hari. Sasarannya adalah kaum buruh gendong di Pasar Beringharjo, Pasar Kranggan, Pasar Giwangan dan Pasar Gamping.

“Sarannya adalah buruh gendong perempuan yang terdampak langsung pandemi Covid-19. Sementara untuk bantuan didapatkan dari kepedulian masyarakat. Mulai dari hasil bumi hingga sejumlah nominal uang,” jelas Co inisiator gerakan Rakyat Bantu Rakyat, M. Berkah Gamulya, 41, ditemui di dapur umur Warmindo Bakzoo, Jumat (23/10).

Konsep yang ditawarkan dari gerakan ini adalah rakyat bantu rakyat, sebagai bentuk kepedulian dari sesama rakyat.

“Ini teguran kepada negara, faktanya ibu-ibu buruh gendong dapat bantuan saat awal saja. Harusnya negara bikin kebijakan yang rutin jangka panjang. Keberadaan buruh gendong ini sudah berpuluh-puluh tahun, jadi harusnya juga dilihat,” tambahnya.

Gerakan yang diawali 19 September ini berlangsung hingga 13 Oktober. Targetnya bantuan selama lima hari di setiap pasar. Donasi yang terkumpul tak hanya berupa uang. Ada pula hasil panen untuk olahan lauk nasi bungkus.
Terkumpulnya relawan berawal dari getok tular. Diawali dari pengumuman di media sosial. Hingga akhirnya mulai terkumpul satu persatu. Total saat ini ada 37 relawan yang bergabung.

“Ekonomi menurun, Covid meninggi. Sementara ini yang bisa kita lakukan adalah bersolidaritas. Tim terbagi tiga, ada tim masak, tim bungkus dan yang membagi di lapangan,” ujarnya.

Uniknya beberapa relawan yang bergabung juga terdampak pandemi Covid-19. Mulai dari chef hotel hingga pemilik usaha kuliner. Berkah tersendiri bagi pemilik warung kuliner yang tutup, sebab lokasi usahanya dijadikan sebagai dapur umum Rakyat Bantu Rakyat.

Berkah meyakini gerakan ini bisa lebih dari 13 November. Terlebih kepedulian para relawan di Jogjakarta sangatlah tinggi. Tak hanya sekadar bantuan logistik tapi juga tenaga dan pikiran.

“Saya punya ruangan, ada yang punya skill dan ide. Semua yang bisa membantu sangat penting. Untuk dana dan logistik sudah kami alokasi setiap harinya dan bisa sampai 13 November. Harapannya tetap lanjut,” katanya.

Dipilihnya buruh gendong perempuan karena telah memiliki paguyuban. Sehingga manajemen penyaluran bantuan lebih mudah dan tertata.
Bantuan terdistribusi secara rutin setiap harinya. Setidaknya pukul 11.15 ratusan nasi bungkus sudah diantar ke setiap pasar. Terkait teknis pembagian, tim relawan menyerahkan sepenuhnya kepada para buruh gendong.

“Kenapa buruh gendong, karena ibu-ibu ini akan terus bekerja walau pandemi, resesi atau kondisi apapun. Kalau teknis lebih mudah karena buruh gendong punya paguyuban,” ujarnya. (dwi/tif)

Jogja Raya