RADAR JOGJA – Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) mencatat masih ada trauma yang dialami para saksi dan korban kekerasan. Beban ini masih muncul karena masih adanya rasa traumatis terhadap kejadian yang dialami. Untuk mengatasinya, LPSK menawarkan pendampingan psikososial bagi korban dan saksi.

Ketua LPSK Hasto Atmojo Suroyo mengakui tak mudah dalam mendampingi saksi dan korban. Terlebih yang bersinggungan langsung dengan aksi maupun pelaku kejahatan. Sehingga perlu pendekatan secara intens dan konsisten.

“Layanan psikososial ini untuk membantu meringankan, melindungi dan memulihkan kondisi fisik, psikologis, sosial dan spiritual korban. Sehingga mampu menjalani kehidupan sosialnya secara wajar,” jelasnya ditemui di kantor LPSK DIJ, Kamis (22/10).

Layanan psikososial tak hanya menyentuh tanah psikis. LPSK juga memberikan beragam bantuan kebutuhan pokok. Mulai dari sandang, pangan, papan, bantuan memperoleh pekerjaan hingga bantuan pendidikan.

Wujud keseriusan dari layanan ini adalah dibentuknya tim khusus penanganan psikososial. Tim ini memiliki peran memetakan program bantuan psikososial. Tentunya dengan melibatkan organisasi pemerintah daerah (OPD), lembaga filantropi dan kelompok masyarakat.

“Layanan ini tak hanya terfokus kepada saksi dan korban tapi juga keluarganya. Peran dari tim psikososial juga memastikan layanan efektif, tepat guna dan tepat sasaran,” katanya.

LPSK, lanjutnya, mencatat adanya 207 korban masa lalu. Para saksi dan korban ini adalah upaya perlindungan atas kasus masa lalu. Baik atas kasus kejahatan seksual hingga dari aksi terorisme.

Untuk kasus terorisme, pihaknya bekerjasama dengan BNPT maupun Densus 88 Anti-teror Mabes Polri. Tujuannya untuk mendapatkan data secara valid. Tak hanya itu, LPSK juga melibatkan pemerintah daerah dalam pendataan ini.

“Tetap cek ke pemerintah setempat. Apakah betul keluarga korban meninggal akibat terorisme. Memang ada yang belum terdata dan jumlah ini akan terus bertambah,” ujarnya.

Terkendala pendanaan, membuat LPSK turut melibatkan pihak ketiga. Khususnya lembaga yang memiliki program pendampingan serupa. Kemudian disinergikan ke dalam program pelayanan milik LPSK.

Salah satu bentuk kerjasama adalah bersama Lazismu. Berupa pewujudan program layanan psikososial. Bentuknya dalam modal usaha, beasiswa pendidikan dan biaya pengobatan bagi korban.

“Untuk teknisnya tetap oleh LPSK. Kami hanya mendampingi dengan sinergitas program yang kami miliki. Difokuskan kepada korban-korban kejahatan, kekerasan dan kriminalitas,” kata Ketua Lazismu Hilman Latief. (dwi/tif)

Jogja Raya