RADAR JOGJA – Jika berjalan di sudut selatan Jalan Jenderal Sudirman Kota Magelang, akan dijumpai Jalan Ketepeng Raya, Kampung Trunan, Tidar Selatan, Magelang Selatan. Nah, di sana Bank Sampah Maju Lancar tumbuh. Berdiri sejak 2014, bank sampah ini sudah banyak  menghasilkan prestasi. Seperti apa pengelolaannya?

MEITIKA CANDRA L, MAGELANG, Radar Jogja

Sekilas hanya sederhana. Bangunan kecil dengan lahan tak begitu luas. Tak tampak sekalipun perkakas barang bekas dan sampah plastik tak terpakai. Di sinilah gerakan peduli sampah tumbuh. Tidak ada lagi plastik kresek berserakan, juga barang rosok yang menimbun di sekitar jalan perkampungan itu.

Ya, rupanya sejak enam tahun silam, warga Trunan RT 01 RW 9 itu sudah mulai melek sampah. Selama itu pula warga mendapat manfaatnya. “Ya, sampah yang ada di sini bisa menjadi tabungan,”  ungkap pengelola Bank Sampah Maju Lancar sekaligus Ketua RT 1 kampung itu, Jumarlan, 59, saat ditemui Radar Jogja  (19/10).

Berkat antusiasme warga dan semangat tim pengelola, bank sampah ini terbilang sukses. Selama ini terus aktif, anggotanya juga bertambah. Dari mulanya hanya RT 01 saja, kini melebar hingga dua RT sekitarnya. Bahkan beberapa ada yang dari Kecamaan Mertoyudan, Kabupaten Magelang.

Saat ini, kata dia, anggotanya mencapai 80-an. “Di sini sampah anorganik bernilai tinggi. Kalau warga rutin menabung sampah,” kata Jumarlan yang juga penggerak berdirinya bank sampah ini.

Sampah plastik yang sudah tersortir dan dipilah sesuai warna, juga dapat menghasilkan pundi-pundi uang. Sampah bekas minyak, ciki-ciki, juga aneka botol maupun perabot rumah yang rusak, semua bisa ditimbun di bank sampah. “Sebulan dua kali kami jual ke pengepul,” katanya.

Hasil penjualan sampah itu dikelola menjadi tabungan. Setahun sekali tabungan dibedah. Itu saat menjelang atau setelah Lebaran. Tabungan sampah bisa diwujudkan dalam bentuk sembako ataupun uang. “Hasilnya lumayan. Satu orang bisa sampai Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta,” ujarnya.

Tak berhenti pada tabungan saja. Banyak warga yang turut tergerak mengelola sampah menjadi kerajinan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Plastik-plastik dimasukkan ke dalam botol, kemudian dirangkai menjadi meja kursi dan aneka dekorasi rumah lainnya. Dari kerajinan pajangan hingga kerajinan multi fungsi.

Hasil kerajinan itu juga dijual kembali. Bahkan diikutkan bazar. Tri Ningtiastuti, 56, istri Jumarlan salah satunya yang tertarik mengelola sampah plastik. Rupaya tak hanya plastik saja. Kain perca juga disulapnya jadi kerajinan. Dipadupadankan dengan botol bekas.

Jumarlan sendiri sudah lama tertarik menjadi penggerak lingkungan. Edukasi hidup bersih, peduli sampah pun tumbuh di kampungnya. Bahkan  setiap tahun, Bank Sampah Maju Lancar mendapatkan prestasi baik dari Pemkot Magelang.

Terakhir, Juli lalu mendapatkan juara dalam lomba bank sampah dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Magelang. Belum lama ini juga mendapatkan apresiasi dari Kementrian Lingkungan Hidup. Pihaknya juga mendapatkan juara harapan II Produk UMKM dari sampah dengan produk pot gantung. Berkat prestasi itu, bank sampah di kampungnya mendapat hadiah Tosa dan perlengkapan pengelolaan lainnya. “Kami juga mendapat bantuan APD lengkap lima stel dari pusat,”  katanya.

Tak hanya bank sampah, kini pihaknya juga mengembangkan Kampung Organik Guyup Rukun, mengajak warga menanam tanaman sayur untuk kebutuhan sehari-hari. Dia berharap semangat mengelola sampah dan peduli lingkungan ini terus tertanam pada generasi penerus di kampungnya. (laz)

Jogja Raya