RADAR JOGJA – Psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dr Koentjoro mengatakan, ada banyak faktor yang melatarbelakangi maraknya kasus pembuangan bayi. “Salah satunya bisa saja karena dari hasil hubungan pranikah. Kemudian mereka malu dan belum siap menerima kenyataan karena itu dianggap sebagai aib,” katanya saat dihubungi Radar Jogja  (18/10).

Koentjoro menyebutkan, risiko Jogjakarta menjadi kota pelajar atau kota mahasiswa, sehingga jelas penghuninya rata-rata adalah mahasiswa. “Banyak dari mereka itu bisa jadi datang dari daerah-daerah yang dulunya ada pengawasan dari orang tua. Kemudian di sini bisa lepas dari pengawasan orang tua, sehingga tidak ada kontrol,” jelasnya.

Dikatakan, saat mahasiswa otomatis sudah menginjak masa remaja yakni ditandai dengan adanya keberfungsian organ seksualnya. “Seks itu menjadi sebuah kebutuhan ketika sudah pernah dilakukan oleh seseorang. Tetapi ketika itu belum dilakukan, itu belum menjadi sebuah kebutuhan,” ujar Koentjoro.

Untuk itu, dia mengatakan ketika sudah berani menjalin hubungan (pacaran) dengan lawan jenis, harus bisa menjaga untuk tidak melakukan hubungan terlalu jauh atau seks. “Karena ketika orang pacaran sudah melakukan hubungan seks, akan keterusan atau terus melakukan. Risikonya adalah hamil,” katanya.

Kalau sudah hamil, risikonya ada dua, yakni digugurkan atau dipelihara. “Yang menjadi korban adalah anaknya. Saya memiliki klien, ada pasangan pacaran dan hamil. Mereka berusaha untuk digugurkan itu, ibunya merasa berdosa dan tidak pernah hilang. Bahkan ketika dia sakit, meraaa anaknya memanggil-manggil dia terus,” paparnya.

Dia menambahkan, ketika anak dalam kandungan berusaha untuk digugurkan namun gagal, ketika lahir biasanya anaknya akan cacat. “Itu banyak terjadi. Untuk itu, pendidikan seks sejak dini itu penting, yakni tentang seks sehat dan sesuai ajaran agama,”  tambahnya.

Koentjoro melanjutkan, menggugurkan atau membuang bayi tidak akan menyelesaikan masalah. “Kalau sudah terjadi, baiknya ya berani berbuat harus tanggung jawab. Kalau laki-laki tidak bertanggung jawab, itu menjadi risiko perempuan,” tegasnya.

Karena ketika berbicara tentang seks pranikah, biasanya yang menjadi korban adalah perempuan. Untuk itu perempuan harus lebih bisa membentengi diri dan mengendalikan dirinya. “Ketika sudah terjadi nantinya akan ada kelonggaran seks dan akan terus melakukan,”  kata Koentjoro. (cr1/laz)

Jogja Raya