RADAR JOGJA – Memperingati Hari Museum Indonesia yang jatuh pada  12 Oktober, Dinas Kebudayaan (Disbud) DIJ bersama Duta Museum DIJ dan Museum Affandi menggelar lomba esai dengan tema ‘Pasar Ngasem dari Masa ke Masa (Dilihat dari Lukisan Bird Market in Ngasem Karya Affandi)’. Lomba yang dibiayai Dana Keistimewaan ini diikuti 60 mahasiswa S1 dan S2 dari perguruan tinggi di wilayah DIJ.

Penanggung jawab acara Arga Dumadi menjelaskan, selain menjadi bagian dari peringatan Hari Museum Indonesia 2020, kegiatan lomba esai ini juga bertujuan menerjemahkan keindahan visual lukisan Affandi ke dalam bentuk kata-kata.

Tema tersebut mengacu pada Lukisan Bird Market in Ngasem yang dibuat seniman lukis Affandi pada tahun 1979. Keberadaan Pasar Ngasem sendiri telah mengalami banyak perubahan, namun tetap melekat menjadi salah satu ikon Kota Jogja bagi masyarakat.

“Sehingga semakin banyak orang yang dapat menikmati dan memahami keistimewaan lukisan karya sang maestro,” jelasnya dalam keterangan tertulis yang diterima Radar Jogja, Minggu (18/10).

Periode waktu pengumpulan karya telah berlangsung selama satu bulan, mulai 14 September hingga 10 Oktober. Penjurian dilakukan oleh dosen, penulis, dan ahli bahasa. 

Dari hasil penilaian, juara pertama diraih mahasiswa Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) Diky Nuryulia Arby dengan esai berjudul ‘Pasar Ngasem Bukan Sekadar Tempat Jual Beli’.

Juara kedua, ketiga, dan harapan pertama diraih oleh mahasiswa dan mahasiswi Universitas Gadjah Mada (UGM) atas nama Muhammad Azzam Al Haq, Prabanndaru Wahyuaji, dan Raihana Ayu Maharani. Sedangkan juara harapan kedua jatuh kepada mahasiswa Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yudha Adi Putra. 

Kelima orang pemenang mendapatkan trofi, piagam, dan uang pembinaan dari Dinas Kebudayaan DIY. Hadiah diserahkan langsung oleh Kepala Museum Affandi Helfi Dirix di galeri satu Museum Affandi, Jumat (16/10). Turut hadir dalam acara penyerahan hadiah, putri pertama Affandi, Kartika Affandi.

“Harapannya lomba ini dapat menjadi bukti bahwa seni itu tidak terbatas, seperti halnya seni lukis yang menjadi inspirasi bagi seni merangkai kata,” ungkap Arga. (tif)

Jogja Raya