RADAR JOGJA – Pandemi Covid-19 tidak hanya memaksa guru dan murid rindu suasana sekolah, tetapi juga seni pertunjukan yang kehilangan antusias penonton. Festival Kembul Sewu Dulur di pelataran Bendung Kayangan, Kalurahan Pendoworejo, Kapanewon Girimulyo, ditiadakan nyaris hanya ritual Guyang Jaran yang digelar dan mengungkap suasana itu.

HENDRI UTOMO, Radar Jogja, Kulonprogo

SIANG Itu, suasana meriah yang biasa terjadi di pelataran Bendung Kayangan tidak terlihat. Mimik muka sejumlah seniman, tokoh adat dan pejabat, sangat sulit diraba karena terhalang masker dan protokol kesehatan (prokes) pencegahan Covid-19.

Persahabatan dan eratnya keakraban tersita social distancing. Suasana riuh menyantap hidangan penuh doa seolah membisu. Ya, pandemi benar-benar telah berhasil mengubah segalanya. Festival Kembul Sewu Dulur (kenduri pertemuan 1.000 saudara, Red) pun menjadi nampak wagu, sebab berkumpulnya beberapa orang tanpa penerapan prokes saja kini tidak dianjurkan.

Para pelaku seni pertunjukan menatap dengan nanar kondisi yang cukup aneh dan janggal ini. Kendati demikian, warga Pendoworejo tidak menyerah, mereka tetap meneguhkan tradisi guyang jaran, meskipun sedikit terlihat kaku, seperti para penari kuda kepang yang murung, sebab sia-sia merias wajah tetapi tetap saja harus mengenakan masker.

SEDERHANA: Prosesi Guyang Jaran di pertemuan dua anak sungai pelataran Bendung Kayangan Kalurahan Pendoworejo, Kapanewon Girimulyo tetap dilaksanakan di tengah pandemi Covid-19,.(HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA)

Empat penari kuda kepang itu berjalan dengan tenang, diiringi tetabuhan yang melantun ritmis, dari tangan para perawit yang kehilangan ekspresi karena mulut dan hidungnya juga dibungkus kain. Pemandangan yang tidak berubah adalah ekspresi kudang kepang, seperti tahun-tahun sebelumnya, begitu patuh dibawa ke sungai dekat pelataran sejurus kemudian dimandikan dengan air bunga.

Sebelum pandemi, prosesi guyang jaran ini menjadi momen terhebat dalam urusan menyita perhatian warga. Gagahnya penari kuda kepang yang tak takut basah itu dulu menjadi sajian seni budaya yang menjadi rebutan untuk diabadikan oleh warga dan fotografer. Mereka langsung berlarian ketika gamelan dibunyikan, mencari posisi untuk menempatkan kamera, di antara batu kali dan sengatan matahari. Suasana itu tidak terjadi!

“Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, berdasarkan Perbup No 44 Tahun 2020, untuk memenuhi kehendak masyarakat dan kepentingan pencegahan Covid-19, upacara adat kali ini dilaksanakan secara sederhana,” ucap Lurah Pendowoharjo Mustakim usai perhelatan.

Dijelaskan, acara kali ini cukup mengedepankan makna dan inti upacara adat yakni berdoa sebagai rasa syukur kepada Tuhan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, dan mencoba melaksanakan adaptasi kebiasaan baru.

“Upacara adat Rabu Pungkasan dalam keadaan normal biasanya dilaksanakan dengan kirab peralatan Jodang Kirab Jathilan dan pentas seni. Namun kali ini tidak ada untuk menghindari kerumunan,” jelasnya.

Berdasarkan sejarah lisan, tradisi Rebo Pungkasan Bulan Sapar atau Rabu terakhir penanggalan Jawa ini lazim disebut Kembul Sewu Dulur yang dilaksanakan warga Pendoworejo. Rangkaian kegiatan khas tradisi ini diawali dengan upacara adat Nungsung Suryo (Menyambut Matahari) di Bukit Moyeng (Bukit Menoreh) bermkana menyambut kehidupan sekaligus menghormati para leluhur Desa Pendoworejo yakni Mba Bei Sinalangan.

Adapun ritual di pelataran Bendung Khayangan merupakan acara pengunci. Pemanjatan doa, memandikan kuda kepang dan ditutup kenduri akbar.

Bupati Sutedjo yang hadir dalam acara ini mengapresiasi masyarakat Pendoworejo karena masih konsisten melaksanakan tradisi Kenduri Rebo Pungkasan Kembul Sewu Dulur, meskipun di tengah pandemi. Menurutnya, tradisi itu memiliki makna sangat lengkap yang bisa menjadi tuntunan positif bagi warga dan generasi penerus bangsa.

“Saya sangat mengapresiasi tradisi ini, sebagai bentuk pelestarian budaya yang sampai saat ini juga masih relevan. Tradisi ini mengajarkan bagaimana memelihara kegotongroyongan, kerukunan dan kekompakan,” ungkapnya. (*/laz)

Jogja Raya