RADAR JOGJA – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIJ mengantisipasi dampak fenomena anomali iklim La Nina terhadap produktivitas pertanian di DIJ. Fenomena La Nina dapat menimbulkan curah hujan tinggi, sehingga dikhawatirkan bisa mengganggu aktivitas pertanian.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIJ Syam Arjayanti menjelaskan, curah hujan tinggi berpotensi menimbulkan banjir di lahan pertanian. Bencana banjir berpotensi menimbulkan gagal panen.

Maka upaya antisipasi dilakukan dengan mempersiapkan peralatan yang dapat dimanfaatkan petani bila sewaktu-waktu lahannya terendam banjir. “Petani bisa pinjam alat untuk mengantisipasi banjir di lahan pertanian ke Dinas Pertanian,” ungkapnya Rabu (14/10).

Syam mengimbau kepada petani untuk mengantisipasi adanya hama dan penyakit tanaman di musim penghujan ini. Biasanya menyerang semua komoditi, baik tanaman pangan, hortikultura, maupun hewan ternak sehingga bisa mempengaruhi hasil panen serta menimbulkan kematian mendadak. “Curah hujan tinggi harus antisipasi di lahan agar tidak menggenang dan mengakibatkan kebanjiran dan gagal panen,” paparnya.

Dikatakan, meski sudah memasuki musim tanam, sebagian petani baru mulai melakukan panen padi. Namun Syam memastikan stok beras di DIJ masih mencukupi hingga akhir Desember 2020. “Masih sekitar 200 ton di Gudang Tarumartani dan stok di masing-masing kabupaten dan kota di DIJ. Di Gunungkidul juga ada kebiasaan menyimpan beras untuk kebutuhan khusus, misalnya kebutuhan sosial. Harga beras relatif konstan,” jelasnya.

Fenomena alam La Nina sendiri diprediksi oleh Stasiun Klimatologi (Staklim) BMKG Jogjakarta akan menyesuaikan musim hujan di masing-masing wilayah. Yang mana adanya La Nina berpotensi munculnya cuaca ekstrem seperti penambahan intensitas curah hujan.

Kepala Stasiun Klimatologi (Staklim) BMKG Jogjakarta Reni Kraningtyas menjelaskan, musim hujan yang saat ini mulai berlangsung ditambah fenomena La Nina akan menambah intensitas curah hujan hingga 40 persen. Di wilayah Sleman, musim hujan akan mengguyur wilayah barat dan utara pada dasarian II Oktober.

Ini bersamaan dengan wilayah Kulonprogo bagian utara. Sedangkan pada dasarian III Oktober, musim penghujan akan memasuki wilayah Kota Jogja, Bantul, dan Sleman bagian selatan. Serta pada dasarian I November, Gunungkidul baru akan memasuki musim hujan.

Jika bersamaan dengan adanya La Nina, diperkirakan akan terjadi cuaca ekstrem. Ditandai hujan lebat, angin kencang lebih dari 45 km/jam, dan petir. Normalnya, curah hujan yang terjadi dalam sehari adalah 50 milimeter.

Hanya saja saat La Nina,  potensi curah hujan 50 milimeter bisa terjadi dalam kurun waktu satu jam. Jika hal itu terjadi, biza menimbulkan banjir setinggi ban mobil. “Normalnya pada bulan Oktober, curah hujan hanya 100-150 milimeter setiap bulannya. Namun saat La Nina bisa 40 persen lebih banyak,” jelas Reni Rabu (14/10).

Reni menambahkan, La Nina adalah fenomena alam periodik. Yang pernah terjadi sebelumnya, pasa tahun 2016/2017 dan diperparah dengan adanya Badai Cempaka di wilayah Bantul. Sedangkan untuk tahun ini, diperkirakan ada badai tropis di Samudra Hindia.

Hanya saja, pihaknya belum bisa memprediksi apakah badai itu akan sampai di perairan selatan Jawa atau tidak. “Seperti di tahun 2017. Jika dekat, dampaknya akan luar biasa. Namun kita prediksikan, sepertinya masih belum sampai di perairan selatan Jawa,” tambahnya. (tor/eno/laz)

Jogja Raya