RADAR JOGJA – Tak tahan melihat tumpukan sampah di sungai, pemuda Dusun Ngrajek, Desa Ngrajek, Mungkid, Kabupaten Magelang, bergotong royong membersihkannya. Lalu timbul gagasan, menyulap saluran irigasi itu menjadi kolam ikan tawar.

MEITIKA CANDRA L, Mungkid, Radar Jogja

Ardian Prihandoko, pemuda asal Ngrajek I merasa risih dengan tumpukan sampah yang menggenang di saluran irigasi, persis di barat dusun. Dia prihatin  karena tumpukan sampah itu juga dikeluhkan para petani lantaran menghambat aliran ke lahan pertanian.

Peduli terhadap lingkungan, dia bergegas lalu menggajak teman-temannya bergotong royong membersihkan sampah tersebut. “Kami ajak pemuda di sini untuk kerja bakti membersihkan saluran irigasi,” ungkap Ardian, pemuda berusia 20 tahun itu.

Melihat sumber air melimpah, timbul inisiatif memanfaatkan saluran irigasi itu untuk ditaburi ikan. Mereka iuran swadaya dan sepakat menyulap saluran irigasi menjadi kolam ikan. Hal ini juga untuk menjaga kualitas air.

“Kalau banyak ikan begini kan warga sungkan buang sampah ke sungai. Harapannya sungai makin lestari,” terang Ardi. Lokasi ini sudah diresmikan 21 September lalu oleh lurah desa setempat.

Lokasi ini diberi nama Lepen Shumong. Lepen berarti sungai, Shumong adalah nama tempat di dusun itu. Saluran irigasi itupun ditaburi ikan nila merah dan emas sebanyak satu kuintal. Ditebar di saluran air sepanjang 25 meter.

Pihaknya memberikan sekat dari besi sebagai pembatas sekaligus penyaring sampah. Selain itu, pemuda setempat juga membuat mural dinding bergambar ikan dan mewarnai bagian tepi selokan.

Pemuda lain, Ahmad Laely Mansur, 21, menambahkan harapannya ke depan lokasi itu dapat dijadikan destinasi wisata sekaligus edukasi. Selain pengembangan taman selfie, rencananya akan ada kuliner serba ikan. “Apalagi sini terkenal dengan potensi ikan tawarnya,” ujar Ahmad.

Pemuda setempat juga akan mengembangkan saluran irigasi yang belum terjamah. Hari Minggu lalu (11/10) mereka kembali bergotong royong membersihkan saluran lainnya untuk dijadikan kolam. Rencananya untuk pengembangan ikan koi dan tawas.

Hampir tiga pekan dibuka, lokasi ini mulai didatangi warga. Untuk memperoleh penghasilan, pemuda setempat menjajakan pelet makanan ikan kepada pengunjung. Per cup dijual Rp 2 ribu. Hasilnya dalam satu hari rata-rata terjual hingga 50 cup. “Lumayan, sebagian hasilnya untuk pengembangan, sebagian lagi dibelikan pakan,” ucap Rohmad Abadi, pemuda lain di lokasi.

Ia menyebut, rata-rata pengunjung masih warga lokal. Pihaknya belum menarik retribusi parkir karena memang belum tersedia lokasi parkirnya. Pemuda dusun juga telah membagi jadwal jaga setiap harinya. “Sehingga dapat terkelola dengan baik,” tambahnya.

Gagasan ini terinspirasi pengembangan ikan koi di Kampung Mrican, Kota Jogja. Pemuda setempat berharap, kegiatan ini menjadi kegiatan positif yang membuka peluang pekerjaan nantinya. “Terlebih saat Covid-19 ini, banyak pemuda yang dirumahkan. Mudah-mudahan kegiatan ini bisa jadi peluang ke depan,”  tambah Ahmad. (*/laz)

Jogja Raya