RADAR JOGJA – Pandemi Covid-19 telah mengubah cara hidup masyarakat dan peluang usaha. Pada sektor pariwisata, kondisi ini memiliki dampak negatif dengan turunnya tingkat kunjungan wisata. Namun juga ada dampak positifnya yakni membentuk pariwisata yang berkualitas (quality tourism).

“Pariwisata ke depan itu sudah tidak lagi dalam bentuk pariwisata masal (mass tourism), tetapi dalam bentuk quality tourism atau rombongan kecil yang tidak bergerombol. Hal itu sudah terjadi di beberapa negara saat ini,” kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa saat berkunjung ke Yogyakarta International Airport (YIA), Kulonprogo, Minggu (11/10).

Dijelaskan, quality tourism ini harus dijemput. Jadi bukan lagi mengejar tingkat kunjungan, melainkan kualitas kunjungan. “Dulu trennya memang begitu, wisatawan datang ramai dengan agen perjalanan dan bisa berbodong-bondong. Ke depan mungkin tidak begitu lagi, family tourism yang didorong,” jelasnya.

Menurutnya, pandemi yang mensyaratkan protokol kesehatan (prokes) cukup relevan dengan tren quality tourism ini. Family tourism misalnya, mereka datang bersama keluarga dan bisa menetap lebih lama dibandingkan wisatawan yang datang bergerombol atau berombongan.

Secara omzet, mereka yang datang berombongan tidak akan lama menghabiskan waktu, sementara wisata keluarga bisa berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Mereka fokus untuk menikmati keindahan alam, budaya dan lain sebagainya.

“Secara perhitungan family tourism akan lebih banyak membelanjakan uang, baik itu untuk home stay atau berbelanja. Beda dengan wisatawan yang datang berombongan,” ujarnya.

Ditegaskan, Jogjakarta sebagai daerah kunjungan wisata cukup diperhitungkan di tingkat nasional. Banyak hal-hal yang menarik dan atraktif di Jogjakarta seperti keindahan alam dan berpadunya budaya. Ini memantik minat wisatawan untuk berkunjung ke Jogjakarta.

“Kultur budaya dan situs yang ada di sini juga banyak. Bahkan masih terjaga dan dijalankan dengan baik. Itu yang menjadi daya tarik wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara. Potensi itu harus dimaksimalkan,” tegasnya.

Pariwisata Tak Boleh Kalah dengan Korona

Semangat dan pemahaman yang sama juga dijalankan Dinas Pariwisata (Dinpar) Kulonprogo dengan terus menggenjot potensi pariwisata dan ekonomi kreatif di tengah masa pandemi. Salah satunya dengan meluncurkan program Sambanggo.

Kepala Dinpar Kulonprogo Joko Mursito menjelaskan, program Sambanggo memiliki sejumlah arti, di antaranya Sambang Kulonprogo, Sambang Monggo jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia artinya “Mari Berkunjung” dengan penggalan ‘Go’  sebagai aksara Jawa. Aksara jawa ‘Go’, direpresentasikan tiga hal, yakni gisik atau pantai, gawe atau ekonomi kreatif dan gunung atau wilayah perbukitan.

“Sambanggo ini merupakan sebuah inovasi kami untuk menggenjot pariwisata dan ekonomi kreatif di tengah pandemi. Sebab dampak korona begitu dirasakan sektor wisata dan ekonomi kreatif. Semua vakum beberapa bulan terakhir,” jelasnya.

Menurutnya, Sambanggo merupakan program promosi untuk menarik perhatian wisatawan terhadap sejumlah objek wisata di Kulonprogo yang telah mendapat rekomendasi usai uji coba operasional. Dinpar juga sudah melakukan verifikasi terhadap puluhan destinasi wisata dan usaha jasa pariwisata.

Dikatakan, Sambanggo juga selaras dengan jargon Among Tani Dagang Layar yang digaungkan Gubernur Hamengku Buwono X. “Melalui visi itu, Ngarsa Dalem memiliki keinginan untuk menjadikan pantai selatan menjadi wajah DIJ. Kami dukung dengan Sambanggo,”  tegasnya.

Bupati Kulonprogo Sutedjo mengapresiasi inovasi yang digagas Dinpar Kulonprogo. Menurutnya, program ini efektif untuk menggenjot wisatawan yang berdampak pada pendapatan asli daerah (PAD). “Lesunya sektor wisata akibat pandemi berdampak penurunan APBD Kulonprogo. Ini tidak boleh berlarut. Semoga program baru ini tepat sasaran dan bisa menguatkan kualitas pariwisata. Tidak hanya jualan tiket masuk atau kuantitas kunjungan semata,” harapnya. (tom/laz)

Jogja Raya