RADAR JOGJA – Aksi unjuk rasa yang berujung kerusuhan di DPRD DIJ, Jalan Malioboro, dikhawatirkan akan mencoreng citra pariwisata DIJ. Segala bentuk perbaikan kerusakan diperlukan untuk memulihkan kondisi di kawasan itu.

Kepala Dinas Pariwisata DIJ Singgih Raharjo.(YUWANTORO/RADAR JOGJA)

Kepala Dinas Pariwisata DIJ Singgih Raharjo menjelaskan, dia mengapresiasi upaya penyampaian aspirasi melalui aksi demonstrasi. Namun, tindakan perusakan tidak dibenarkan. “Kalau anarkistis jadi hal yang bisa mencoreng Jogja yang dikenal adem ayem,” jelasnya Selasa (13/10).

Meski belum menerima laporan adanya wisatawan yang membatalkan kunjungan, peristiwa itu akan mencoreng citra pariwisata Jogjakarta. Terlebih, kawasan Malioboro merupakan destinasi utama wisatawan yang datang ke Jogja.

“Nah ini juga tentu akan berpengaruh terhadap citra pariwisata. Malioboro jadi destinasi wisata utama orang yang datang ke Jogja pasti ingin ke Malioboro. Tentu hal ini diharapkan tidak akan berulang lagi. Masyarakat dan aparati bisa mengantisipasi kejadian serupa,” katanya.

Upaya perbaikan perlu diselesaikan secepat mungkin. Karena kerusakan dikhawatirkan akan membuat wisatawan tidak nyaman. Misalnya dilakukan pengecetan. “Supaya tidak terganggu visualisasinya. Pemandangan jadi enak, orang menikmati (Malioboro) jadi lebih enak,”  tandasnya.

Menurut Singgih, perkembangan di sektor pariwisata terus membaik di kala pandemi ini. Namun, pada pekan ini jumlah wisatawan mengalami penurunan. “Yang terdaftar dalam aplikasi pendataan 17 ribu di hari Sabtu dan Minggu sekitar 30 ribu. Kalau Sabtu sebelumnya 20 ribu dan 40 ribu di hari Minggu. Banyak faktor yang mempengaruhi kondisi lingkungan di daerah masing-masing,” katanya.

Wisatawan Malioboro Reuben Hadi, 28,  mengatakan aksi anarkistis kemarin tak mengurungkan niatnya untuk menyambangi Malioboro. Kejadian itu justru membuatnya penasaran untuk berkunjung. “Ini malah jadi pingin tahu dengan datang ke sini. Tapi kondisinya sudah bagus, Kayak nggak ada apa-apa. Cuma ada coret-coretan yang mungkin susah juga ngilanginnya kan,” kata pengunjung asal Klaten itu. (tor/laz)

Jogja Raya