RADAR JOGJA – Kelompok atau klaster baru penularan Covid-19 di Sleman kembali ditemukan. Klaster baru muncul di perkantoran swasta di Kapanewon Depok. Hasil tracing di ponpes pun masih menemukan kasus baru.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Slema, Joko Hastaryo menjelaskan, perusahaan tersebut bergerak di bidang telekomunikasi yang memiliki lebih dari 500 karyawan. Didominasi karyawan berusia 25-35 tahun. Kasus positif pertama bermula pada Kamis (8/10). Salah satu karyawan perempuan, 23, melakukan tes swab secara mandiri. Sebelumnya, perempuan tersebut menyadari adanya gejala. Dari tes swab, didapatkan hasil positif dan dilakukan tracing mandiri di salah satu RS.

Awalnya, tambah Joko, hanya ada 19 orang yang dinyatakan positif. Namun, setelah dilakukan tracing, jumlah lasus positif terus bertambah. Setelah dikembangkan, ada penambahan sebanyak 48 kasus positif. Namun, bukan seluruhnya orang Sleman. Secara keseluruhan, kasus Covid-19 di klaster perusahaan tersebut mencapai 62 orang. “Dari RS yang melakukan swab melapor ke Provinsi. Dan Provinsi membagi, yang Sleman sekian yang ini sekian,” kata Joko Senin (12/10).

Lokasi perusahaan yang berada di Sleman, tambah Joko, pihaknya bertanggungjawab untuk melakukan pengawasan penerapan protokol. Saat ini, perusahaan tidak dilakukan penutupan mengingat jam kerja karyawan yang tidak mencapai 24 jam. Hanya saja, pihaknya melakukan pembatasan kepada jumlah karyawan yang bekerja dalam satu ruangan. Hanya boleh diisi separo dari jumlah hari biasa. “Perusahaan masih berjalan. Yang lain ada yang isolasi mandiri, ada yang WfH,” tambahnya.

Sedang tracing kasus Covid-19 di sebuah pondok pesantren (ponpes) besar di Kapanewon Ngaglik terus lakukan. Tercatat, ada 23 tambahan kasus yang ditemukan. Dari sebelumnya 112 kasus, saat ini sudah mencapai 135 kasus positif Covid-19.Sedang tracing ponpes di Kapanewon Prambanan, lanjut Joko, ditemukan 17 kasus positif. “Santri semua. Tapi yang terakhir kemarin ada pengasuh satu orang,” tambah Joko.

Sementara itu, Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Sleman, Wisnu Murti Yani menuturkan, akan menerapkan sistem pengawasan berjenjang di ponpes yang telah menggelar pembelajaran tatap muka.

Nantinya, ponpes diminta melakukan catatan penerapan protokol kesehatan. Yang kemudian dilaporkan ke gugus tugas Kapanewon setiap bulannya. Dalam pengawasan berjenjang, pihak kapanewon yang bertugas melakukan monitoring dan evaluasi (monev) ke ponpes yang ada di wilayahnya. “Kalau ada pelanggaran yang beresiko penularan kita akan melakukan pembinaan,” kata Wisnu.

Jika nanti ditemukan pelanggaran, maka pihaknya akan langsung memberikan pembinaan dan peringatan tertulis. Jika namtinya sudah dilakukan pembinaan namun masih ditemukan pelanggaran, tidak menutup kemungkinan izin rekomendasi akan dicabut.(eno/pra)

Jogja Raya