RADAR JOGJA – Beberapa waktu belakangan masyarakat dihebohkan dengan salah satu tanaman hias yang dipercaya berasal dari Amerika Tengah. Banyak masyarakat yang menjualnya dengan harga fantastis, bahkan hingga puluhan atau ratusan juta rupiah.

Menanggapi hal ini, pakar ekonomi pertanian dan agribisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dr Ir Masyhuri mengatakan, sebenarnya hal itu tidak wajar. “Tidak wajar sebenarnya, tetapi bagi penggemar dan uangnya banyak atau berlimpah, pasti mau,” katanya saat dihubungi Radar Jogja, Minggu (11/10).

Dia mengatakan, mahalnya harga tanaman itu karena di Indonesia merupakan tanaman baru. Kemudian barangnya unik, menarik, dan taktik atau promosinya bagus. “Sehingga orang yang memiliki uang banyak mau membeli dengan harga yang mahal. Bahkan tak jarang pasti bisa juga untuk dibisniskan,” sebutnya.

Masyhuri menyebutkan, hal itu bisa dibilang taktik bisnis untuk mendapatkan keuntungan yang besar. “Istilahnya monkey business, jadi seperti monyet. Sudah dapat makan dan kenyang, nanti terus lari,”  tambahnya.

Dikatakan, semacam ada oknum bisnis yang memanfaatkan situasi. Nantinya kalau semua sudah beli dan memiliki tanaman janda bolong itu, harganya bisa diturunkan. “Sama halnya fenomena gelombang cinta dulu. Awalnya harganya mahal, kemudian banyak yang beli tapi akhirnya harganya turun, terus normal lagi,” ujar Masyhuri.

Dia melanjutkan, dalam taktik harga fenomena semacam itu disebut skimming pricing atau penjenjangan harga. Skimming pricing merupakan lawan dari penetrasi harga. Kalau penetrasi harga, dari murah dulu baru mahal. Sedang skimming pricing, dari mahal ke murah.

“Ini ada yang membuat juga, istilahnya komplotan. Karena promosinya bagus, masyarakat jadi percaya bahwa ini harganya mahal dan diminati banyak orang,” paparnya.

Dia berpesan kepada masyarakat sebaiknya membeli janda bolong jangan untuk berbisnis. Artinya membeli tanaman itu kemudian berharap nantinya akan mendapatkan keuntungan yang lebih.

“Misalnya sekarang bibitnya harga Rp 1 juta, nanti berharap jika dijual akan mendapat uang lebih besar. Tetapi itu hanya jangka waktu pendek saja. Nanti setelah harga turun, akan mengalami kerugian. Jangan berbisnis, harus hati-hati. Tapi kalau mau beli sebagai konsumen, silakan,” pesannya.

Disebutkan, bisnis tanaman hias itu menguntungkan asalkan harganya normal-normal saja. Karena tanaman hias juga diperlukan dan ada konsumennya. “Asalkan wajar, tidak seperti sekarang ini. Yang saya khawatirkan nanti banyak orang beli bibit sudah mahal. Harapannya dijual dengan harga lebih mahal lagi, tetapi nyatanya nanti harganya sudah turun. Jadi kesimpulannya jangan beli untuk bisnis. Tetapi kalau beli untuk di rumah agar punya, tidak apa-apa. Apalagi yang ekonominya pas-pasan,” tandasnya. (cr1/laz)

Jogja Raya