RADAR JOGJA – Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti memastikan tak ada ganti rugi kepada pedagang kaki lima korban aksi unjuk rasa penolakan UU Cipta Kerja. Khususnya bagi lapak yang menjadi sasaran dari kerusuhan. Ini karena perusakan dilakukan oleh orang tak dikenal selama aksi berlangsung.

Pihaknya bersama Pemprov DIJ justru fokus pada fasilitas umum di Malioboro yang rusak. Seperti pagar pembatas, kursi, tempat sampah hingga fasilitas air siap konsumsi.

“Ya tidak ada ganti rugi dalam hal ini. Kami lebih kepada infrastruktur di Malioboro sendiri. Itupun kami kerjasama dengan jajaran Pemda (Pemprov DIJ),” jelasnya, Senin (12/10).

Pemkot Jogja, lanjutnya, telah mendata kerusakan yang terjadi. Nominal kerugian yang dialami mencapai Rp 254 juta. Mayoritas kerusakan adalah fasilitas publik di sepanjang kawasan Malioboro sisi utara hingga depan Hamzah Batik.

Penggantian dan perbaikan fasilitas langsung dilakukan selang satu hari pasca aksi, Jumat (9/10). Mulai dari lampu-lampu kota, pot bunga hingga wastafel. Perbaikan dilakukan secara bertahap dari Malioboro sisi utara ke selatan.

“Masih dalam batas kami lakukan perbaikan sekitar Rp 254 juta. Selain infrastruktur rusak kami juga membersihkan coretan cat semprot. Sudah kami lakukan sejak Jumat, lalu Sabtu dan Minggu,” katanya.

Orang nomor satu di Kota Jogja ini menyayangkan adanya aksi perusakan. Menurutnya penyampaian pendapat adalah hak semua warga negara Indonesia. Hanya saja perlu dilakukan dengan tanggungjawab dan patuh aturan.

Dampak aksi, menurutnya, tak hanya dirasakan pemerintah. Terdampak utama justru warga dan pedagang di kawasan Malioboro. Selain omset menurun juga rusaknya beberapa barang dan lapak dagangan.

“Dampaknya pasti ekonomi juga, karena lapak berjualan ada yang rusak. Menypaikan aspirasi boleh tapi jangan anarksis,” ujarnya.

Pasca bentrokan, PKL Malioboro telah beroperasi normal. Bahkan hanya selang satu hari, kehidupan di pusat kota Jogja ini telah kembali. Walau begitu masih terlihat beberapa warga dan pedagang yang melakukan bersih-bersih.

“Sudah normal lagi sekarang jualannya. Tapi saya juga berpesan, kalau memang dirasa sudah tidak kondusif, pedagang siap-siap. Tutup daripada nanti malah dalam tanda kutip jadi korban,” katanya. (dwi/tif)

Jogja Raya