RADAR JOGJA – Beberapa perusahaan menerapkan sistem shifting. Guna menekan pengeluaran sejak adanya pandemi Covid-19. Nugroho Sigit Riyadi adalah satu pegawai yang terdampak kebijakan itu. Tapi, ini justru menjadi salah satu lompatannya dalam membangun usaha.

SITI FATIMAH, Bantul, Radar Jogja

Ayah satu putra ini menjalani shifting kerja mingguan. Artinya satu minggu kerja, kemudian pada minggu berikutnya hanya di rumah. Itu dilakoni warga Manggisan Rt 07, Baturetno, Banguntapan, Bantul, ini sejak April lalu. “Karena ada waktu luang, saya jadi coba-coba,” ujarnya saat menurunkan selembar kayu yang telah berpola untuk dipotong.

Melihat putranya yang aktif, Hasbi Al-Karni, Nugroho berpikir untuk membuat mainan. Sekaligus melatih keseimbangan anaknya yang kini telah berusia tiga tahun. Berbekal telepon pintar, Nugroho menemukan pertandingan push bike atau balance bike. Sang anak yang tertarik, menimbulkan hasrat Nugroho untuk mencari tahu lebih banyak tentang sepeda tanpa pedal itu.

Kebetulan, pria yang bekerja sebagai mandor perajin perak ini memiliki alat pemotong papan. Sebab, dia memang tertarik membuka usaha di bidang kayu sejak 2018. Mencontoh pola yang diperolehnya dari internet, Nugroho kemudian memodifikasi model rangka sepeda. Seminggu, jadilah sepeda pertama. Saat dicoba sang anak, istri Nugroho, Sri Ratna Sari, pun mengunggah sepeda karya suaminya. “Ternyata tetangga banyak yang tanya,” ucapnya semringah.

Sejak saat itu, Nugroho mulai menerima pesanan. Pria 37 tahun ini lantas membuat dua macam ukuran push bike. Ukuran kecil untuk anak usia 2-3 tahun, sementara yang besar untuk anak usia 4-5 tahun. Material yang digunakan pun dua macam, yaitu multiplek dan kayu jati belanda. Dijuallah sepeda dengan harga mulai Rp 250 ribu sampai Rp 350 ribu. Tergantung ukuran dan material sepeda. Sementara modal pembuatan satu sepeda sekitar Rp 150 ribu.

Dalam sehari, Nugroho sebenarnya mampu membuat dua sepeda. Namun rata-rata dia hanya membuat selusin sepeda per minggu. Sementara pemasarannya dilakukan oleh Ratna. Perempuan 28 tahun ini memasarkannya melalui media sosial (medsos) dan aplikasi pasar dalam jaringan (daring). Push bike buatan Nugroho nyatanya menarik banyak pembeli.

Dengan nama pancal bike, sepeda ini sudah terjual 70 unit. Padahal baru dipasarkan sejak awal Mei lalu. Menurut Ratna, Pancal Bike digemari karena desainnya yang unik. Sebab menggunakan material kayu. Selain itu, harganya lebih murah. Ya, bandingkan saja kalau push bike dengan material besi, harganya mencapai Rp 3 juta. “Sudah ada yang pesan sampai ke Sulawesi. Dari Malaysia juga sudah ada yang tanya. Tapi kami belum mengerti prosedur pengiriman barang ke luar negeri,” ungkap Ratna.

Pemilihan nama Pancal Bike, ternyata menyesuaikan cara penggunaannya. Dalam Bahasa Jawa, pancal artinya didorong menggunakan kaki. “Awalnya mau saya kasih nama Covid-19, terus teman saya melarang. Saya sempat pusing itu. Akhirnya malam-malam liat anak saya mancal sepeda, ya udah, saya kasih nama Pancal Bike saja. Beres,” kelakarnya.

Meraih sukses dari Pancal Bike, membuat Nugroho ingin terus berinovasi. Oleh sebab itu, kendati perusahaan tempatnya bekerja sudah tidak menerapkan shifting, Nugroho tetap meminta kebijakan itu masih berlaku untuknya. “Saya ingin fokus sama Pancal Bike,” cetusnya. (*/laz)

Jogja Raya