RADAR JOGJA – Pasca kericuhan aksi penolakan UU Cipta Kerja di Gedung DPRD DIJ dan Malioboro kemarin (8/10), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jogjakarta merilis data aduan masyarakat. Direktur LBH jogja, Yogi Zul Fadhli menjelaskan pihaknya telah menerima 51 pengaduan yang masuk dari masyarakat terkait mahasiswa peserta aksi yang diamankan aparat kepolisian.

“Sebanyak 41 nama diketahui berada di Polresta Jogja. Sebagian data, belum diketahui dengan jelas posisinya,” jelasnya dalam konferensi pers, Jumat (9/10).

Pihaknya mendapat data nama dan usia orang-orang tersebut sekitar jam 3 pagi. Selama tiga jam menunggu di Polresta Jogja, keluarga peserta aksi tidak mendapat kepastian tentang keberadaan anaknya.

“Beberapa kali kami tanyakan, apa yang menjadi dasar polisi tidak memperkenankan kami masuk mendampingi. Polisi tidak bisa menjawab, tapi dikatakan polisi bahwa di dalam sedang dilakukan proses pemeriksaan,” ujarnya.

Yogi mengatakan proses hukum secara pidana semestinya diberlakukan. Bahwa setiap orang yang diperiksa wajib didampingi kuasa hukum sesuai KUHP, apakah itu tersangka atau saksi. Dalam KUHP, disebutkan bahwa seseorang yang ditangkap polisi wajib memberitahu keluarga terkait tindak pidana apa yang dilakukan.

“Itu yang tidak pernah diberitahukan pihak kepolisian. Saya tidak tahu ada apa di kepolisian sehingga terkesan menutupi,” katanya.

Salah satu orang tua mahasiswa UPN, Supriyono, mendapat informasi sekitar pukul 21.00 dari pihak kepolisian bahwa anaknya yang bernama Dimas Wibowo diamankan di Polresta Jogja. Seketika warga Temanggung, Jawa Tengah ini menuju Jogja.

“Kronologi, anak saya mau pulang ke Temanggung, ada demo dia melihat. Posisi di tengah kerumunan, lalu ada seseorang manggil sini-sini, HP direbut. Saat HP direbut, dia langsung lari. Pada waktu lari itu, dia ditangkap,” tuturnya.

Sementara itu, Tipuk Sugihartati orang tua mahasiswa Sastra Inggris UAD Raafi Taufiqurrahman menuturkan, Kamis (8/10) sekitar pukul 15.15 anaknya masih sempat makan bakso di sekitar Tugu. Sebelum mendatangi Polresta Jogja, Tipuk sempat menghubungi rumah sakit untuk mencari tahu keberadaan putranya.

“Mau pulang ambil motor dihalangi orang-orang kampung. Sampai jam 11, tidak pulang ke rumah. Jam 12 malam ditelepon, putra bapak ikut demo,” terangnya. (sky/tif)

Jogja Raya