RADAR JOGJA – Bentrok aparat kepolisian dengan peserta aksi menolak UU Cipta Kerja di kawasan Malioboro, berdampak terhadap para pedagang kaki lima (PKL). Para pedagang yang berusaha mengais rezeki harus kocar-kacir dan menutup dagangannya lebih awal setelah kerusuhan pecah.

Pengawas dan Penasihat Koperasi Paguyuban PKL Malioboro Tri Dharma Rudiarto sangat menyayangkan terjadinya kericuhan ini. Masing-masing tidak bisa menahan diri sehingga terjadi benturan dengan PKL yang tengah berjualan.

Terpaksa anggota PKL yang awalnya buka lapak, akhirnya menutup dagangan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. “Setelah ada tembakan gas air mata, kami langsung tutup. Karena pendemo banyak yang berlindung di seputaran PKL, nampaknya gas air mata diarahkan ke kerumunan masa yang berbaur dengan PKL,” katanya.

Dia langsung mengintruksikan semua PKL, terutama di seputaran zona bentrok dari depan Hotel Inna Garuda sampai depan Malioboro Mal untuk menutup lapak sampai situasi kondusif. “PKL yang belum sempat tutup keburu lari karena gas air mata. Mata pedih, sesak napas, akhirnya banyak dagangan yang rusak dan terbakar,” tuturnya.

Suasana seperti ini baru pertama dirasakan oleh PKL. Menurutnya,  walau pernah ada gerakan dengan massa besar seperti era reformasi tahun 98, tapi tidak seheboh saat ini.  “Luar biasa, seumur-umur saya baru merasakan dampak gas air mata. Mata perih, sesak napas, dan tenggorokan sakit,” ungkapnya.

Kepala UPT Malioboro Ekwanto mengatakan, begitu muncul tanda-tanda bakal terjadi kericuhan pihaknya langsung menginstruksikan para PKL untuk mengamankan diri beserta barang dagangannya. “Untuk sementara teman-teman PKL kami minta mencari perlindungan masing-masing. Kami tidak bisa berbuat sesuatu, kecuali mengimbau,”  tandasnya.

Ia menjelasjan pusat kerusuhan berada di sekitaran gedung DPRD DIJ dan meluas ke utara. Ia membenarkan kondisi saat itu sudah tidak terkendali dan rusuh di lapangan. Personel Jogoboro juga ditarik ke TKP Abu Bakar Ali untuk pengamanan dan perlindungan.

“Karena ramai sekali, sudah terjadi kegaduhan luar biasa. Lempar-lemparan, gas air mata, kemudian semprotan (water canon). Pedagang tidak bisa lanjut jualan,” terangnya.

Menurutnya, sebelumnya para PKL buka seperti biasa karena untuk kebutuhan ekonomi mereka. Namun terpaksa menutup lapak untuk mencari perlindungan. “Kami instruksikan pedagang agar berlindung dulu, sampai situasi kondusif,” ucapnya.

Berdasar pengalaman selama ini, pihaknya sama sekali tidak pernah memberikan izin menggelar aksi di sepanjang Malioboro. Akan tetapi dalam situasi yang serba genting, UPT tidak bisa berbuat banyak. “Malioboro untuk demo belum pernah kami mengizinkan. Tapi, ini mungkin sifatnya lebih pada dampak kondisi nasional. Malioboro tidak bisa lepas dari itu,”  tambahnya. (wia/laz)

Jogja Raya