RADAR JOGJA – Para pedagang kali lima (PKL) di kawasan Malioboro memilih untuk menutup usahanya hari ini (8/10). Mereka takut dengan kericuhan aksi penolakan UU Cipta Kerja di Gedung DPRD DIJ. Para pedagang yang bertahan hanyalah penjual minuman.

Salah satu PKL yang memilih tutup adalah Sumiati, 47. Penjual kerajinan khas Jogjakarta ini tak ingin dagangannya terdampak. Alhasil dia memilih tutup walau baru buka belum lama.

“Pasrah dan takut mas, selain itu sepi juga karena tidak ada yang beli. Ya lebih baik saya tutup saja,” keluhnya, Kamis (8/10).

Perempuan yang tinggal di Patangpuluhan ini mengaku tak keberatan dengan adanya aksi unjuk rasa. Dengan catatan peserta aksi tak menimbulkan kericuhan dan kerusakan fasilitas publik.

“Demo nggak apa apa, tapi jangan kayak gini. Karena kalau gini kita juga yang rugi tidak bisa berjualan. Tutup lebih awal,” katanya.

Keluhan yang sama juga disampaikan oleh pedagang jam tangan Jefry. Pemuda ini terpaksa tutup lebih awal karena adanya aksi unjuk rasa. Dia hanya mengikuti anjuran dari koordinator PKL Malioboro.

“Saya ikut yang lain-lain saja, karena tutup ya saya ikut tutup,” ujarnya. (dwi/tif)

Jogja Raya