RADAR JOGJA – Pasca uji rapid diagnostic test (RDT) acak oleh Pemerintah Kota Jogja terhadap pelapak dan pemilik usaha di kawasan Malioboro, dipastikan belum ada temuan kasus Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Sampel darah yang diambil adalah pedagang dari ujung utara hingga selatan. 

Walau acak, namun pemilihan sampel tetaplah selektif. Tercatat ada 25 pedagang kaki lima (PKL) yang terpilih mengikuti uji acak ini. Seluruhnya mewakili kelima zona yang ada di kawasan Malioboro. 

“Sudah, sudah kami ambil secara sampling untuk rapid tesnya. Hasilnya non reaktif semua. Ada 25 PKL yang ikut rapid tes ini,” jelasnya dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa (6/10).

Kebijakan ini ditempuh atas kajian tim Satgas Covid-19 Kota Jogja. Terlebih setelah munculnya kasus terkonfirmasi positif Covid-19. Diketahui bahwa beberapa pedagang di zona 3 Malioboro telah terpapar. Bahkan satu diantaranya telah meninggal dunia.

Pasca terbitnya hasil, Heroe memastikan tak ada penutupan kawasan Malioboro. Walau begitu pihaknya tetap memantau dan melakukan evaluasi. Acuannya adalah munculnya kasus dan mobilitas warga. 

“Sepenilaiannya tidak diperlukan sampling lanjutan, walau ada target sampel yang absen ketika pelaksanaannya. Sampel ini sudah mewakili kelima zona,” katanya.

Ketua Satgas Covid-19 Kota Jogja ini meminta seluruh warga maupun pengunjung Malioboro disiplin protokol. Menurutnya langkah ini adalah kunci menekan persebaran kasus Covid-19. Dimana kesadaran menjaga kesehatan menjadi tanggungjawab bersama.

Heroe meminta agar seluruh stakeholder lebih ketat dalam menjaga protokol di seluruh kawasan Malioboro. Tanpa kompromi, demi memberikan rasa aman dan nyaman baik bagi sesama pedagang maupun pengunjung.

“Sekarang kondisinya memang aman, tapi jangan terlena. Tapi kondisi aman ini tetap harus  bisa dipertahankan. Pelaksanan protokol kesehatan di Malioboro diketati pelaksanaannya,” ujarnya.

Pengawasan dan penegakan protokol kesehatan terfokus saat mendekati akhir pekan. Berdasarkan pantauan, keramaian pengunjung terjadi dalam kurun waktu tertentu. Tepatnya rentang waktu Kamis hingga Minggu.

Melihat fenomena ini, pihaknya menambah petugas pengawas. Penempatan hampir merata di selasar utara hingga selatan kawasan Malioboro. Perannya untuk memastikan pengunjung maupun pedagang menjalankan protokol kesehatan secara disiplin.

Jajarannya melalui Satgas Gakkum Covid-19 juga menegakan operasi yustisi. Sasarannya adalah pelanggaran perseorangan maupun kelompok pelaku usaha. Sanksi yang diberikan sebatas sosial dan pendataan.

“Operasi penegakan yustisi ini kan bagian dari upaya menegakkan protokol kesehatan. Kami juga tetap membatasi jumlah pengunjung. Maksimal 2.500 orang dengan pembagian paling banyak 500 orang per zona,” katanya. (dwi/tif)

Jogja Raya