RADAR JOGJA – Operasi yustisi penegakan disiplin protokol kesehatan (prokes) akan diperluas titiknya, baik untuk pemakaian masker maupun tempat-tempat usaha. Tidak lagi hanya menyasar titik-titik sumbu filosofi Jogja, melainkan menyasar ke wilayah kecamatan.

Kepala Satpol PP Kota Jogja Agus Winarto mengatakan, dalam rangka HUT Kota Jogja tahun ini, akan diadakan gerakan penegakan prokes serentak di seluruh wilayah kota yakni di 14 kecamatan. “Sementara untuk wilayah nanti lebih ke pelaku usaha, tapi tidak menutup kemungkinan juga penegakan prokes, khususnya pemakaian masker,” katanya Kamis (1/10).

Agus menjelaskan, perluasan titik penegakan dipertimbangkan karena kasus Covid-19 di Kota Jogja masih fluktuatif. Prokes harus menjadi bagian utama masyarakat sebagai antisipasi persebaran virus. Di sisi lain masih banyak masyarakat yang abai, seperti pemakaian masker maupun abai dalam menyediakan fasilitas cuci tangan, berjaga jarak, berkerumun, dan lain-lain.

“Semangatnya kami tetap mengingatkan, mengedukasi seluruh warga. Supaya prokes ini menjadi bagian dari sebuah gaya hidup atau life style ke depannya,” ujar Agus.

Dikatakan, operasi yustisi penegakan prokes selama hampir dua pekan ini telah menjaring 559 pelanggar tidak bermasker. Dari jumlah ini masih didominasi anak muda, pelajar, dan mahasiswa. Hanya tiga orang yang memilih membayar sanksi denda Rp 100 ribu pada awal operasi yustisi, dan sisanya dihukum sanksi sosial untuk menyapu dan push up.

Setelah dua pekan uji coba penindakan hukum prokes ini, Satpol PP akan rutin melakukan operasi. Untuk penerapan sanksi denda tidak serta merta langsung diterapkan, sembari melihat perkembangan di lapangan. “Kalau saya yang terpenting jangan sampai masyarakat itu terpaksa memakai masker karena operasi penegakan. Tapi lebih pada kebutuhan untuk menjaga diri dan orang lain,” tandasnya.

Selain itu, operasi yustisi tempat-tempat usaha juga sedang disusun jadwalnya bekerjasama dengan wilayah kecamatan. Direncanakan running pada awal pekan ini. Rata-rata awal operasi akan menyasar pelaku usaha kuliner dan toko berjejaring.

Mekanisme penindakan, diberikan peringatan tertulis satu kali. Sembari pemantauan oleh BKO, jika masih tetap abai langsung ditempel stiker bahwa tempat usaha itu tidak terverifikasi prokes Covid-19. “Ya kami kasih teguran tertulis dulu, nanti dipantau lagi. Kalau memang nggak patuh, ya nggak usah nunggu teguran 2 dan 3 kali langsung tempel stiker,” tambahnya.

Sementara Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi mengatakan, dalam rangka pemulihan ekonomi di wilayah Kota Jogja maka operasi yustisi akan digiatkan rutin. Agar masyarakat maupun para pelaku usaha memiliki kesadaran untuk bisa menjalankan prokes Covid-19 dengan ketat. Prokes menjadi pertahanan utama agar pertambahan kasus bisa ditekan.

Selain itu juga mendorong verifikasi prokes di lapangan untuk pelaku usaha tempat-tempat umum maupun destinasi wisata. “Nah untuk mendorong itu kami terus melakukan operasi yustisi, tidak hanya di sumbu filosofi tapi di tempat-tempat lain,” tambah Heroe. (wia/laz)

Jogja Raya