RADAR JOGJA – Eksistensi Batik terus memasuki masa yang berbeda. Dinamika terjadi dengan munculnya beragam motif yang tak hanya klasik tapi juga kekinian. Pengaplikasian batik juga mulai merambah produk kaos, sepatu, syal hingga dasi.

Inilah yang terlihat di Galeri Batik Lok Iwon. Berada di Kampung Tamansari, galeri ini menampilkan motif batik yang tak biasa. Sentuhan-sentuhan kekinian terlihat dalam setiap motifnya. 

“Motif klasik tetap bertahan tapi sekarang motif kekinian juga terus berkembang. Ini adalah salah satu cara agar batik tetap lestari seiring perkembangan jaman,” jelas pemilik Galeri Batik Lok Iwon, Iwan Setiawan, Jumat (2/10).

Lok Iwon, sapaannya, juga menjadikan ini sebagai strategi pelestarian batik. Pria kelahiran 11 Desember 1972 ini menghadirkan beragam inovasi demi menjaga komitmen pelestarian batik.

Berbeda dengan rekan sejawatnya, Lok Iwon menempuh cara nyeleneh. Dalam mengenalkan batik, pria ini membebaskan muridnya mengeksplorasi karya. Tak harus berangkat pada motif batik klasik.

Cara ini ternyata jauh lebih efektif. Minat untuk mendalami batik justru tumbuh secara perlahan. Berawal dari ketertarikan hingga akhirnya intens mempelajari dunia batik.

“Dengan cara simpel agar anak suka dulu. Buat kaos lalu kombinasi dengan motif klasik. Kalau dengan teori yang rumit, nanti malah bisa tidak minat duluan,” katanya.

Strategi ini dia terapkan saat menjadi guru ekstrakurikuler di salah satu SMP Swasta di Kota Jogja. Sekolah ini telah berganti guru membatik hingga tiga kali. Alasannya para siswa tak merasa cocok dengan metode yang diterapkan.

Begitu datang, Lok Iwon tak langsung berbicara tentang teori. Dia langsung mengajak para anak didiknya mengunjungi galeri batik di Tamansari. Para siswa diajak untuk mengenalkan beragam motif dan cara membuat batik.

“Konsepnya menimbulkan minat dan antusias. Bebas kembangkan motif sesuai kesukaan anak. Setelah berkarya hasilnya dipajang saat penerimaan rapor sebagai bentuk apresiasi. Anak-anak pun bangga,” ujarnya.

Berawal dari gerakan ini, muncul ide kreatif lainnya. Lok Iwon dan para siswa berinisiatif membuat seragam batiknya sendiri. Masing-masing menggoreskan motif di kain. Setelah jadi dipotong sesuai pola dan menjadi seragam sekolah.

“Mereka antusias sekali saat buat seragam ini. Lalu saat acara pemecahan rekor muri di pagelaran kraton, anak-anak saya ajak serta. Mereka ini pelestari sehingga harus diajak juga,” katanya.

Berbagi ilmu dan tak pelit seakan menjadi pilihan hidupnya. Lok Iwon tak ingin ilmu membatik hanya dikuasai segelintir orang saja. Baginya tanggungjawab melestarikan kekayaan budaya juga hak semua orang.

Beberapa kali dia menjadi narasumber pelestarian batik. Bahkan turut serta dalam mengembangkan dan mengangkat motif khas. Seperti yang terjadi di Brebes dan Karawang.

“Dikaji dulu kearifan lokalnya untuk menjadi motif khas. Akhirnya ketemu, seperti di Brebes motifnya Salam Salem. Lalu Karawang ada Padi Emas dan Hayam Jali Emas. Ilmu harus bermanfaat minimal untuk lingkungan sekitar,” ujarnya. (dwi/tif)

Jogja Raya