RADAR JOGJA – Memprihatinkan. Ya, kasus pembuangan bayi di Sleman cukup marak. Dalam sembilan bulan atau sejak Januari hingga September lalu, Dinas Sosial (Dinsos) Sleman mencatat ada 10 pembuangan bayi di kabupaten ini.

Dari sembilan bayi yang ditelantarkan itu, enam ditemukan dalam keadaan masih hidup, sementara empat lainnya sudah meninggal dunia. Terhadap maraknya pembuangan bayi ini, di masyarakat sampai muncul pemeo “gelem enake ora gelem anake” (mau enaknya tapi tidak mau anaknya, Red).

Kabid Rehabilitasi Sosial Dinsos Sleman Wisnu Wardoyo menjelaskan, enam bayi yang ditemukan dalam keadaan hidup itu dibuang di wilayah Ngemplak, Prambanan, Depok, Godean, Ngaglik dan ditinggalkan di RSUP Dr Sardjito. Tiga di antaranya saat ini sudah diambil lagi oleh pihak keluarga terkait. Sedangkan empat lainnya yang meninggal dunia, ditemukan di wilayah Cangkringan dan Maguwoharjo.

Untuk bayi hidup yang ditemukan dan belum diketahui keluarganya, lanjut Wisnu, masih dititipkan di lembaga tertunjuk. Masih menunggu waktu selama enam bulan lamanya untuk proses penyelidikan. “Jika dalam waktu enam bulan masih belum ada keluarga dari bayi, maka bayi akan dilakukan adopsi melalui kelembagaan. Dalam hal ini nantinya melalui Dinsos Provinsi,” jelas Wisnu kepada Radar Jogja Senin (19/10).

Ia menuturkan, meskipun bayi telantar itu ditemukan oleh salah satu warga, tidak membuat warga tersebut memiliki hak untuk mengambil bayi. Ketentuannya, setelah bayi dibuang, bayi harus diserahkan kepada puskesmas, bidan maupun rumah sakit untuk memastikan keadaan bayi sehat. Setelah itu, puskesmas harus menyerahkan ke pihak kepolisian untuk dilakukan penyelidikan. Saat proses penyelidikan berlangsung, bayi akan diserahkan ke Dinsos Kabupaten dan provinsi untuk dirawat.

Sedangkan untuk proses adopsi anak, lanjut Wisnu, calon orang tua haruslan mendaftarkan diri ke Dinsos Provinsi. Calon orang tua sesuai urutan, akan mendapatkan bayi yang ditelantarkan dan siap diadopsi. “Jadi calon orang tua tidak bisa memilih. Setidaknya saat ini masih ada 90 calon orang tua yang menunggu,” kata Wisnu.

Sementara itu, Satuan Bakti Pekerja Sosial Perlindungan Anak Kemensos Subaidi mengaku, pembuangan bayi yang terjadi tidak bisa dipastikan penyebabnya. Hanya saja seperti kasus yang ditemukan di Godean dan Prambanan, alasan pembuangan bayi dikarenakan hamil di luar nikah. “Namun mayoritas memang penyebabnya itu,” ungkapnya.

Untuk meminimalisasi pembuangan bayi, dinsos juga bekerjasama dengan klinik dan bidan. Untuk segera melaporkan jika diketahui adanya kehamilan yang tidak dikehendaki. Nantinya pihak dinsos akan memberikan penguatan dan menanyakan terkait pola asuh anak ke depannya. “Kita assesment dan konseling. Ada yang akhirnya membawa orang tua angkat, dan ada yang sampai melahirkan setelah itu dilanjutkan menikah,” tambahnya.

Kepala Seksi Rehabilitasi Tuna Sosial Dinsos Sleman Gunardi menambahkan, bayi hidup yang ditemukan adalah sudah menjadi ranah publik. Oleh karena itu, jika masyarakat ingin melakukan adopsi, haruslah mendaftar ke Dinsos DIJ. Jika masyarakat bingung, hanya perlu datang ke Dinsos Kabupaten untuk melakukan konsultasi dan pendampingan. “Dan gratis. Bukan ke advokat atau notaris yang nantinya berbayar. Namun jika hal itu dirasa perlu untuk pendampingan, tidak apa-apa,” tuturnya.

Sedangkan untuk pembuangan bayi dan ditemukan dalam kondisi meninggal, peran Dinsos tergantung kepada pihak kepolisian. Biasanya, dinas ini diminta untuk menyiapkan lahan pemakaman bayi telantar.

Oktober Sudah

Ada Dua Kasus

Sudah ada dua kasus pembuangan bayi di buloan Oktober ini. Di awal bulan (2/10) ditemukan bayi laki-laki di tepi jalan Padukuhan Gandok Tamanan, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman. Bayi dibungkus kain jarik lengkap dengan celana dan baju.

“Bayi itu ditemukan oleh warga pukul 10.00 pagi. Awalnya warga saat melihat mengiranya sampah, tetapi saat dicek akan Jumatan ditemukan bayi laki-laki masih hidup,” ujar Kabid Humas Polda DIJ Kombes Pol Yuliyanto.

Saat itu bayi langsung dibawa ke RS Bhayangkara Polda DIJ untuk mendapatkan perawatan yang intensif. Sementara pada Selasa (13/10) lalu, warga dihebohkan dengan penemuan orok bayi di Selokan Mataram sekitar pukul 12.30.

Kapolsek Depok Timur Kompol Suhadi mengatakan, bayi ditemukan oleh dua orang pemuda, Azis Priyatno, 17, dan Widitia Kiki Prasetyo, 17, asal Grobogan. “Jasad bayi itu ditemukan di Selokan Mataram, masuk Padukuhan Sanggrahan RT 12/RW 11, Maguwoharjo, Depok,” katanya  (13/10).

Dikatakan, orok bayi itu berjenis kelamin laki-laki. Setelah mendapat laporan ini, Polsek Depok Timur langsung menuju ke lokasi penemuan. Saat ditemukan posisi bayi berada di dalam air dan sudah dalam keadaan tak bernyawa.

Menurut pengakuan saksi, pada pukul 12.00 saat hendak pergi mancing ke selokan itu, melihat sesosok bayi. Namun, sudah dalam keadaan meninggal dunia. “Mereka kemudian melaporkan kejadian ini ke Polsek Depok Timur,”  katanya. (eno/cr1/laz)

Jogja Raya