RADAR JOGJA – Selama pandemi, pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor wisata Kabupaten Gunungkidul anjlok. Kunjungan menurun dan berimbas terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar.

Mereka yang selama ini menggantungkan hidup pada gemerlapnya dunia wisata, sekarang ikut meredup. Masyarakat masih harus beradaptasi dengan kebiasaan baru pembatasan sosial serta penerapan protokol kesehatan (prokes).

Salah satu dampak paling nyata adalah beban utang pelaku wisata. Selama ini pengembangan usaha berasal dari suntikan permodalan lembaga perbankan. Ketika Covid-19 datang, semua buyar dan kembali dari nol.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dewa Bejo, Bejiharjo, Karangmojo, Bagia mengatakan, hingga sekarang  usaha pariwisata Gua Pindul nyaris lumpuh. Meski sudah melakukan uji coba operasional, hasilnya tidak sesuai harapan.

“Sepekan pengunjung 12 orang. Kalau dulu ribuan orang,” kata Bagia saat dihubungi Selasa (22/9).

Di satu sisi pihaknya berusaha sabar karena situasi demikian tidak dialami sendiri. Sebagai gambaran, katanya, Pokdarwis Dewa Bejo menerapkan skema gaji terhadap pengurus. Sementara pemandu dihitung dengan jumlah trip. “Karena pendapatan minim, kami mulai menguras uang kas,” ungkapnya.

Dalam situasi demikian, pihaknya sulit berbicara masa depan. Paling dekat adalah memenuhi kebutuhan perut dan membayar cicilan bank. Dia tidak menampik, tidak sedikit pengelola wisata memiliki beban utang. “Kalau terus-terusan begini, utang terus menggunung,” ucapnya.

Dia berharap pemerintah memperhatikan keluh kesah masyarakat, terutama beban hidup pelaku wisata. Keberpihakan pemerintah berupa penundaan cicilan sedikit banyak membantu kesulitan.

Sementara itu, pengelola wisata kuliner Jelok Resto, Sukri mengaku mengalami titik jenuh. Tidak hanya karena Covid-19, beroperasinya bandara baru YIA menjadikan jarak bandara dengan Gunungkidul semakin jauh. “Ini menjadi tantangan berat. Diperlukan sinergi pelaku wisata lokal dengan pemerintah daerah,” kata Sukri.

Pengelola Gunung Api Purba, Nglanggeran, Sugeng Handoko mengatakan, sejak virus korona mewabah, pintu masuk menuju destinasi wisata ditutup total. Langkah demikian menindaklanuti arahan dari pemerintah.

“Sekarang sudah melakukan uji coba operasional, namun terjadi penurunan kunjungan sangat drastis dibanding situasi normal,” kata Sugeng.

Terpisah, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indoensia (PHRI) Gunungkidul Sunyoto mengungkapkan adanya geliat kunjungan wisata ke kabupaten berjuluk Handayani itu. Hotel maupun penginapan sudah mulai terisi meskipun berasal dari wisatawan lokal. “Namun tidak sedikit pengunjung membawa makanan sendiri saat berwisata,” ujarnya. (gun/laz)

Jogja Raya