RADAR JOGJA – Seorang warga Kota Jogja Agnes Trimudayanti tak bisa menikmati uang pensiunnya yang telah dia simpan di PT Asuransi Jiwa Adisarana Wana Artha.

“Sejak Januari, saya tidak lagi mendapatkan bunga. Padahal, kehidupan saya dan anak-anak sangat bergantung pada uang pensiun itu,” ungkapnya di sela aksi damai bersama 20-an nasabah Wana Artha lainnya di kantor Kejaksaan Tinggi DIJ, Rabu (23/9).

Nasib serupa juga dialami Sumartono. Warga Kulonprogo itu menyimpan dana ganti rugi pembebasan lahan YIA yang dia terima ke Wana Artha Life.

“Sejak dua bulan lalu, saya tidak mendapatkan hak saya. Dana yang saya simpan juga tidak bisa dicairkan,” ujarnya.

Selain Sumartono, masih ada lebih dari 10 warga Kulonprogo penerima ganti rugi pembebasan lahan yang juga menyimpan dana mereka di Wana Artha. Rata-rata tiap orang menyimpan dana lebih dari Rp 1 miliar. 

Dalam aksi ini Agnes, Sumartono, dan nasabah lain menyampaikan permohonan perlindungan keadilan dan penegakan hukum atas kasus Wana Artha Life. 

Menanggapi aksi itu, juru bicara Kejati DIJ Djaka D Wibisana menyatakan akan menyampaikan permohonan tersebut ke pimpinannya.

“Saya akan teruskan ke pimpinan,” ujarnya.

Aksi ini digelar menjelang rencana penuntutan perkara Jiwasraya yang akan digelar 5 Oktober. Dalam kasus teresebut Jaksa menyita subrekening efek Wana Artha yang berdampak pada 26 ribu nasabah dan pemegang polis. Penyitaan dilakukan sebagai barang bukti perkara dugaan korupsi Jiwasraya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Aksi serupa juga digelar di Palembang, Sumatra Selatan. Para pemegang polis memilih mendatangi kantor Otoritas Jasa Keuangan.

“Kami sudah enam bulan tidak mendapat kejelasan soal dana yang kami simpan. Pemerintah jangan menyita rekening Wana Artha supaya nasabah bisa mendapat hak mereka kembali,” ujar Simon Novianto, mewakili sekitar 40 nasabah lainnya.

Kabag Perlindungan Konsumen OJK, Anjar Sumarjati, berjanji akan memberikan perlindungan para nasabah sesuai aturan OJK. (sky/tif)

Jogja Raya