RADAR JOGJA – Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X mengakui tidak mungkin mengikuti standar tes swab dari WHO. Yaitu 1 dari 1.000 penduduknya per pekan. Hingga kemarin, total baru 52.769 warga yang sudah menjalani tes swab. Kendala biaya jadi penyebabnya. Karena itu Pemprov DIJ memasifkan upaya tracing.

HB X mengakui, mestinya daerah bisa melakukan tes swab sebanyak satu persen dari keseluruhan populasi. Namun DIJ dianggap belum sanggup memenuhi kriteria tersebut  karena terkendala anggaran. “Kalau untuk swab dari 3,7 juta penduduk di DIJ ya 370 ribu kita lakukan untuk bisa antisipasi. Tapi kan jadi mahal sekali, kami gak kuat,” katanya ditemui di Kepatihan Selasa (22/9).

Data Gugus Penanganan Covid-19 DIJ, hingga tujuh bulan pandemi Covid-19 di DIJ baru 66.071 sampel yang diuji menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) atau swab. “Jumlah orang yang di-swab 52.769 orang,” kata Juru Bicara Pemprov DIJ untuk Penanganan Covid-19 Berty Murtiningsih ketika dikonfirmasi.

Berty menjelaskan, terdapat penambahan 67 kasus positif Selasa (22/9). Sehingga akumulasi kasus Covid-19 di DIJ menjadi 2.312 kasus. Jumlah itu berdasarkan pemeriksaan 786 sampel dari 710 orang. Jumlah yang diperiksa per harinya pun belum konsisten. Data yang diunggah di media sosial Humas Pemprov DIJ, pada 21 September 2020, jumlah sampel yang diperiksa pun hanya 680 dari 608 orang. Padahal Minggu (20/9) tercatat ada 1.018 sampel yang diperiksa dari 967 orang.

Terkait hal itu, HB X menambahkan, langkah sementara yang ditempuh adalah memasifkan upaya tracing untuk menjaring penderita Covid-19. Upaya itu juga ditempuh untuk mengantisipasi kedatangan mahasiswa dari luar daerah. “Harapan saya kita bisa konsentrasi, yang penting bukan jadi  klaster. Sakit ya diobati di rumah sakit. Minum vitamin dan sebagainya. makin banyak yang di-tracing semoga makin turun,” tandasnya.

Raja Keraton Jogja itu menjelaskan, kendati mengalami peningkatan kasus terkonfirmasi positif, kondisi ini belum memasuki tahap puncak atau masa peak penularan. Dia memprediksi bahwa tren peningkatan masih fluktuatif. “Covid ini tidak ke arah peak tapi fluktuatif. Karena bermutasi juga Covid-nya,”.

Berty menambahkan, dari keseluruhan kasus positif, sekitar 360 di antaranya adalah tenaga maupun karyawan kesehatan. Mayoritas dalam kondisi baik karena sekitar 90 persen di antaranya adalah asimtomatik orang tanpa gejala (OTG). “Tetapi meski asimtomatik tetap diisolasi oleh RS masing masing dan shelter yang ada di tiap kabupaten atau kota,” katanya. Lebih jauh, pasien yang mengalami kesembuhan juga bertambah yakni sebanyak 35 orang. Sehingga total pasien sembuh menjadi 1.578 orang. Saat ini DIJ mencatatkan case recovery rate sebesar 68,25 persen. (tor/pra)

Jogja Raya