RADAR JOGJA – Pemkot Jogja mulai mengaktifkan Shelter Tegalrejo sebagai ruang isolasi mandiri bagi pasien terkonfirmasi positif Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) asimptomatik. Rumah susun ini berkapasitas 42 unit kamar. Setiap unit mampu menampung 2 pasien. Dengan catatan memiliki hubungan saudara dan keluarga.

Gubernur DIJ Hamengku Buwono X (HB X) berharap hadirnya shelter dapat menjadi solusi agar penanganan lebih optimal dan lebih terawasi. Sehingga angka persebaran kasus Covdi-19 dapat ditekan.

“Kalau harapan saya bagaimana shelter bisa berikan salah satu pilihan bagi kekhawatiran (adanya) OTG ya. Bagaimana mereka bisa ditangani dengan baik,” jelasnya ditemui usai meninjau Shelter Tegalrejo, Selasa (22/9).

Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini berharap penanganan optimal dapat berimbas pada tingkat kesembuhan. Dibandingkan jika melakukan isolasi mandiri, pasien belum tentu mengetahui tindakan medis yang tepat bagi dirinya.

HB X mendorong agar Pemkot Jogja melengkapi fasilitas shelter. Seperti adanya psikolog dalam mengawasi rutinitas. Menurutnya kesehatan psikis juga tak kalah penting dibanding kondisi fisik.

“Harapan saya cukup setelah (dirawat) dari sini (shelter) negatif Covid-19. Harapan kami tetap sama untuk tetap sehat, itu saja,” katanya.

Penghuni perdana shelter ini adalah 19 pasien positif asimptomatik. Seluruhnya merupakan hasil tracing kasus Covid-19 yang ada di Kota Jogja. Di antaranya 11 ibu hamil. Ada pula balita dan keluarganya.
Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti menuturkan seluruh pasien akan dijemput dari kediamannya masing-masing. Sehingga semua pasien asimptomatik di Kota Jogja akan menjalani isolasi di shelter ini.

“Mulai hari ini sore nanti (22/9) sudah dihuni. Dijemput dan di bawa ke sini (shelter). Besok tidak sembarang orang bisa kesini seperti ini. Besok sudah berlaku zona infeksius,” ujarnya.

Perpindahan atau rujukan isolasi mandiri ke shelter tidaklah mudah. Haryadi mengakui perlu upaya intens dalam melakukan pendekatan. Tujuannya agar setiap pasien Covid-19 asimptomatik mau menjalani rawat inap isolasi di Shelter Tegalrejo.

Haryadi memastikan fasilitas medis dan kebutuhan sosial tercukupi. Mulai dari dokter, obat medis hingga psikolog. Pengoptimalan fasilitas ini bertujuan agar psikis pasien Covid-19 tidak semakin terbebani.

“Jangan sampai budrek. Ada psikolog yang mendampingi, lalu ada tempat sosialisasi, kami tangani humanismenya ada. Nanti juga ada grup WhatsApp atau sejenisnya antar penghuni agar mereka bisa saling komunikasi,” katanya.

Ke depan, Pemkot Jogja akan menambah jumlah shelter. Tak hanya untuk pasien tapi juga tenaga medis. Fungsinya sebagai lokasi sterilisasi maupun beristirahat pasca bertugas. Sehingga tidak langsung kontak dengan lingkungan rumah.

“Kami menjajaki ada shelter lagi untuk tenaga kesehatan. Rencana di Umbulharjo tapi bukan untuk sakit. Nakes kan harus istirahat, seperti ini kalau harus pulang ke rumah kasihan,” ujarnya. (dwi/tif)

Jogja Raya