RADAR JOGJA – Pemakaian masker jenis scuba yang dipersoalkan pemerintah, membuat omzet pedagang masker terdampak. Tidak lagi ada pesanan masker, omzet pun jatuh hingga 100 persen.

Penjual masker scuba custom Suryadi mengaku sejak adanya pemberitaan terkait masker scuba yang tidak bisa mencegah penularan Covid-19 membuat omzet penjualan turun 100 persen. Saat ini, Suryadi mengaku sudah tidak ada lagi yang memesan masker custom. “Minimal tanya-tanya, sudah tidak ada,” jelas Suryadi Senin (21/9).

Sebelumnya, pemesanan masker scuba dengan print desain banyak diminati instansi maupun perorangan. Menurutnya, masker scuba banyak disukai karena memiliki bentuk yang simpel dan harga yang murah.

Meskipun hanya pekerjaan sampingan, setiap bulan Suryadi mampu menjual 360 pcs masker scuba. Harga yang ditawarkan juga sudah termasuk jasa desain yang diinginkan pembeli. “Ambil untung Rp 5 ribu setiap pcs,” tambahnya.

Suryadi menyayangkan pemerintah yang tidak konsisten. Hal ini karena sebelumnya anjuran memakai masker non medis untuk pencegahan penularan. Untuk selanjutnya, ia akan beralih menjual masker kain. “Tetap dengan desain yang diinginkan pembeli,”  ungkapnya.

Sementara itu, dokter spesialis telinga hidung tenggorokan kepala leher RSA UGM dr Mahatma Sotya Bawono, M.Sc., Sp. THT-KL, menegaskan, masker scuba tidak efektif dalam memberikan perlindungan terhadap penularan virus korona. Hal ini karena masker scuba memiliki efektifitas paling kecil. Hanya sekitar 0-5 persen sehingga tidak cukup untuk proteksi.

Hal itu berarti pemakaian masker scuba kurang efektif melindungi area hidung dan mulut penggunanya dari kontak dengan percikan, tetesan, maupun partikel yang mungkin terpapar virus korona. Oleh sebab itu, dia tidak menyarankan pemakaian masker scuba sebagai alat pelindung dari penularan virus korona.

“Tidak disarankan pakai scuba atau buff masker karena kemampuan filtarsinya sangat kecil,” kata dokter yang kerap disapa Boni ini. Oleh karena itu, masyarakat disarankan memakai masker kain tiga lapis yang memiliki efektivitas penyaringan partikel 50-70 persen.

Sementara itu masker scuba dibuat dari bahan tipis elastis yang hanya terdiri dari satu lapisan kain. Bahan yang elastis bisa menjadikan masker memiliki kecenderungan melonggar saat dipakai. “Jadi meski pakai scuba berlapis-lapis akan sia-sia karena bahannya melar,” tambahnya.

Terpisah, Plt Kepala Satpol PP Sleman Susmiarto menuturkan, dalam Perbup Sleman Nomor 37.1 Tahun 2020 tentang Penerapan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan sebagai Upaya Pencegahan dan Pengendalian Covid-19, hanya akan memberikan sanksi kepada masyarakat yang tidak mengenakan masker. Sedangkan untuk jenis masker yang dipakai, tidak disebutkan secara spesifik. “Sehingga kami prioritas dengan pembinaan dan arahan,” ujarnya.

Setelah ditetapkannya Perbup itu, Susmiarto mengaku tingkat penggunaan masker oleh masyarakat di Sleman sudah baik. “Sudah di atas 90 persen,” ungkapnya.

Tidak Semeledak

saat Awal Pandemi

Salah seorang pedagang masker di depan UNY Arif Agung, 35, mengaku dulu orang-orang lebih suka memakai buff, tapi sejak ada Covid-19 beralih nyari masker. Dan yang dicari adalah masker scuba.

Ada dua jenis masker yang dia jual, yakni masker kain dan masker scuba, baik untuk anak-anak maupun dewasa. Dia menyebut masker scuba yang paling banyak dicari masyarakat.

Harga yang ditawarkan mulai dari Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu. “Kalau yang masker kain biasa ini saya jual Rp 5 ribu sama yang untuk anak-anak. Kalau yang scuba saya jual Rp 10 ribuan. Sejak pandemi ya kurang lebih Rp 200 ribu sehari dapat,” kata pria yang berjualan sejak 2010 itu.

Namun rupanya penjualan masker itu sudah tidak semeledak saat awal-awal adanya Covid-19. “Tidak sebanyak saat awal-awal ada Covid itu, mungkin karena sekarang sudah banyak yang punya. Kemudian, masker kain kan bisa dicuci, tidak sekali pakai. Jadi tidak harus selalu beli,” ujar pria asal Jogja itu.

Arif mengatakan, saat awal-awal Covid-19 dia bisa menjual satu sampai enam lusin per hari. Bahkan terkadang sampai kehabisan stok. “Kalau sekarang ya paling setengah lusin, tetapi juga tidak mesti,”  katanya.

Meskipun dirinya penjual masker tetapi dia tetap berharap pandemi Covid-19 cepat berakhir. “Mudah-mudahan virus cepat hilang, orang-orang aktivitasnya menjadi lebih mudah. Bisa bekerja, anak-anak juga bisa kembali sekolah lagi seperti biasa,” harap Arif.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Anton Putra, penjual masker di Jalan Kaliurang Kilometer 6,2. Dia mengatakan, masker scuba lebih banyak dimintai oleh masyarakat. “Ya, biasanya mereka belinya masker scuba,” ungkap Anton.

Meski demikian, penjualan saat ini tidak sebanyak penjualan saat awal-awal pandemi Covid-19. “Kalau awal pandemi itu bisa dua sampai tiga lusin habis, tapi akhir-akhir ini menurun paling satu lusin begitu. Kebanyakan scuba yang dibeli,” ujar pria asal Palagan, Sleman, itu. (eno/cr1/laz)

Jogja Raya