RADAR JOGJA – Kawasan objek wisata Tamansari selalu menarik dikunjungi. Ada nuansa baru di Kampung Taman sisi selatan. Tembok sepanjang 100 meter yang dibiarkan kusam dan tergerus cuaca kini tampak penuh dengan mural. Tampak gambar-gambar dengaj tema sederhana seperti cerita bermain layangan yang lucu dan menggelitik, gambar Pangeran Mangkubumi hingga tema pandemi Covid-19.

Sosok dibalik ide pembuatan mural di Kampung Taman RW 08 RT 31 dan 33, Kelurahan Patehan, Kecamatan Keraton ini adalah Bakti Wibawa.

Ketua panitia mural kampung ini menjelaskan, awalnya tembok panjang tersebut hanya didiamkan. Setelah warga mendapat izin bahkan dukungan dari pemiliknya, barulah digambar mural. 

“Malah saat ini, banyak warga yang minta dimural tembok rumahnya,” ungkapnya, Selasa (22/9).

Beragam mural ini merupakan hasil karya dari puluhan seniman yang berasal dari Institut Seni Indonesia (ISI) jogja.“

“Mereka kami ajak untuk menghias kampung ini dan tidak ada bayaran apapun karena semua ini swadaya dari warga. Mereka justru senang dapat menyalurkan ide kreatif yang terpendam selama pandemi ini,” ungkapnya.

Harapannya, mural ini menjadi daya tarik kunjungan wisatawan baik dalam maupun luar negeri.

“Monggo rawuh (silahkan datang) ke sini, boleh selfie, atau berfoto bersama keluarga maupun teman-teman. Malam juga bisa, ada lampunya dan yang terpenting tetap mengedepankan protokol kesehatan,” ajaknya.

Sementara itu salah satu seniman Kampung Mural Taman Anagard mengatakan, semua seniman yang terlibat harus dapat menuangkan idenya tentang sejarah dari Tamansari itu sendiri. 

“Konsep utamanya, baik sejarah maupun cerita unik yang terjadi belakangan ini. Bisa aktivitas warga, atau lingkungan sekitarnya. Bebas namun kepalanya tetap Tamansari,” kata dia.

Sekitar 16 kelompok dengan total 25 seniman yang terlibat dalam proyek mural yang dikerjakan hanya dua minggu ini. Selain itu ada juga warga sekitar yang ikut menuangkan karyanya sendiri. Seniman-seniman itu berasal dari sejumlah daerah yang berbeda seperti Solo, Sumatera Barat dan lainnya. Ada juga seniman yang berasal dari negara lain seperti Yunani, Finlandia dan Serbia.

“Mereka kebanyakan anak ISI yang berasal dari fakultas seni rupa dan lebih banyak menuangkan gaya pop surealis dalam muralnya. Walaupun ada yang keluar dari konsep tetapi tetap pada esensi utama yaitu sejarah Tamansari dulu hingga kini,” tutur Anagard. (sky/tif)

Jogja Raya