RADAR JOGJA – Dulu Tidar Campur hanyalah kampung biasa. Terletak di Kelurahan Tidar Selatan, Kecamatan Magelang Selatan, Kota Magelang. Namun, tiga tahun belakangan kampung ini begitu populer. Warga terus mengepakkan sayap mengelola menjadi kampung tematik. Mulai kampung warna-warni hingga kampung Anggrek.

MEITIKA CANDRA LANTIVA, Kota Magelang, Radar Jogja

Kampung ini berada di perbatasan Kota Magelang bagian selatan dengan Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang. Kampung ini cukup dekat dengan pusat kota. Sekitar 15 menit dari kantor Pemkot Magelang. Kampung ini terdiri atas satu rukun warga (RW) dan lima rukun tetangga (RT).

KREATIF: Suasana kampung Tidar Campur di Kelurahan Tidar Selatan, Kecamatan Magelang Selatan, Kota Magelang, (20/9). ( MEITIKA CANDRA LANTIVA/RADAR JOGJA )

Secara keseluruhan kampung ini unik. Mulai 2017 warga kompak mempercantik rumah masing-masing dengan goresan cat warna-warni seni mural dinding. Ada yang dicat dekoratif dengan susunan bidang warna-warni. Ada juga dengan objek tiga dimensi layaknya suasana sungguhan. Kampung ini semakin hidup.

Berbondong-bondong orang berdatangan ke kampung ini hanya sekadar mengabadikan momen dengan berswafoto. Tak hanya warga lokal, tetapi juga wisatawan asing.  Bahkan kala itu mendapat kunjungan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

Seiring berjalannya waktu, warga semakin tergerak mengembangkan kampung. Menggali potensi kampung, sehingga Kampung Tidar Campur akan terus menggelora dan semakin dikenal meluas.

“Harapannya menjadi berkah tersendiri bagi warga kampung ini. Menjadi destinasi wisata alternatif di Kota Magelang,” ujar pengelola Kampung Tidar Campur Sugiarto saat peresmian Taman Anggrek, pekan lalu.

Dikatakan, khususnya di RT 1 yang menjadi sentral pengembangan sejak awal, gagasan pengembangan kampung itu pun mendapat respons positif masyarakat setempat. Sugiarto yang juga ketua RW kampung ini membeberkan, pengembangan Kampung Tidar Campur  dirintis sejak 2014 lalu. Diawali dengan pemberdayaan SDM masyarakat setempat melalui Program Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM).

“Saat itu mendapat bantuan dan bisa dikembangkan,” katanya. Kampung ini juga memiliki potensi sebagai sentra industri tahu. Maka, dikembangkan wisata edukasi. Edukasi pembuatan tahu dan beberapa produk kuliner. “Terus merembet jadi kampung warna-warni dan membuka taman anggrek,”  tambahnya.

Tak hanya itu, kampung ini sebelumnya juga aktif mengelola sampah, mengembangkan tempat penampungan sementara (TPS). Adanya instalasi pengolahan air limbah (IPAL) pun juga dioptimalkan sehingga dapat menghasilkan pupuk. Dari pupuk itu warga kembali berinovatif menciptakan taman di kampungnya. Yakni dinamai Taman Anggrek Rukun Ramah Rejeki.

Sesuai harapan masyarakat, diharapkan adanya taman itu semakin menambah semarak warga. Semakin guyup rukun, bersikap santun dan ramah, juga menjadi berkah tersendiri.

Pengembangan taman anggrek berada di lahan pribadi warga seluas 1.000 meter persegi. Dulunya hanya lahan datar. Kini menjadi taman yang indah. Dipenuhi tanaman anggrek. Ke depan, tanaman ini akan dibudidayakan, sehingga wisatawan yang hendak berkunjung di kota ini dapat mampir membeli oleh-oleh bunga anggrek di kampung tersebut.

Sugiarto menuturkan, pengembangan kampung ini diharapkan mampu menggerakkan semangat muda warga sekitar. Untuk terus menciptakan inovasi-inovasi yang dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi warga sekitar. Sehingga dapat membuka lapangan pekerjaan. (laz)

Jogja Raya