RADAR JOGJA – Masih banyak warga Jogjakarta yang tak patuh protokol Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Terbukti saat Satgas Covid-19 melakukan patroli dan menemukan kerumunan. Begitu rombongan petugas pergi, kerumunan kembali merapat. Tak ada jaga jarak sebagai penerapan physical distancing.

Temuan terbaru adalah keramaian di deretan penjual kopi utara Stasiun Tugu akhir pekan lalu. Aktivitas ini sempat membuat heboh dunia maya. Salah satunya adalah akun Twitter @DosenGarisLucu. Akun ini mempertanyakan efektifitas protokol Covid-19 di Jogjakarta.

Sekretaris Provinsi (Sekprov) Pemprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji merespon unggahan ini. Dia meminta warga benar-benar mengimplementasikan protokol Covid-19. Tak hanya sekadar menjadi kebijakan pemerintah yang tertulis.

“Yang berkerumun itu kebanyakan malah orang-orang intelek. Rata-rata anak muda tingkat SMA dan kuliah. Kesadaran harus muncul, ini bukan kepentingan pemerintah tapi kepentingam bersama,” tegasnya ditemui di Kompleks Kantor Kepatihan Pemprov DIJ, Senin (21/9).

Mantan Kadisdikpora DIJ ini meminta warga berkaca pada angka lonjakan kasus. Akhir pekan lalu terjadi penambahan 144 kasus baru. Detilnya 74 kasus pada Sabtu (19/9) dan 70 kasus pada Minggu (20/9).

Keberadaan Satgas Gakkum Covid-19 DIJ tak akan efektif selama warga tidak patuh dan disiplin protokol Covid-19. Terlebih jumlah personel dan total warga Jogjakarta yang tak sebanding.

“Weekend itu sampai 144, ini mau sampai kapan? Apakah kita harus jam malam, (kalau) melarang orang keluar rumah lagi itu kan juga nanti perekonomian akan tergangggu. Jadi intinya kesadaran masyarakat,” katanya. 

Adanya wacana jam malam, bisa saja terjadi. Kebijakan ini bisa bergulir apabila lonjalan kasus terus meningkat. Dengan catatan warga tidak disiplin menerapkan protokol Covid-19.

Walau begitu ada skema yang lebih tepat. Berupa sistem bungkus bawa pulang atau take away dari warung kuliner. Para penjual, lanjutnya, tak perlu menggelar tikar yang menyebabkan kerumunan. 

“Bisa saja nanti beberapa masukan yang akan kami bahas disatu tempat misalnya hanya boleh take away. Agar tidak ada kerumunan,” ujarnya.

Aji meminta para pedagang dan pemilik usaha kuliner tegas. Menolak dan menegur pengunjung yang tidak mematuhi protokol Covid-19. Pemprov DIJ, lanjutnya, tak segan-segan mencabut ijin usaha apabila masih terjadi pelanggaran. Terutama jika masih terjadi kerumunan. 

“Jangan sampai kami tutup usahanya.  Upayakan penjualan-penjualan makanan dibuat model take away. Bukan konsumsi di tempat,” tegasnya. (dwi/tif)

Jogja Raya