RADAR JOGJA – Hampir dua tahun menempati barak sementara, para pedagang Pasar Prawirotaman mulai ditinggal pelanggannya. Kondisi diperparah dengan pandemi Covid-19. Ditambah lagi proses revitalisasi Pasar Prawirotaman yang mundur dari rencana.

Sejak pertengahan 2019 lalu, sebanyak 619 pedagang Pasar Prawirotaman pindah ke barak sementara. Terdapat tiga jenis lapak pedagang. Mulai dari ukuran 1 meter x 1,25 meter, 1 meter x 1,5 meter dan 3 meter x 3 meter. Awalnya ditarget revitalisasi selesai akhir 2019, tapi mundur hingga setahun. Direncanakan serah terima pasar yang baru dilakukan Desember 2020 ini.

Akibatnya, mayoritas pedagang mengalami omset menurun hingga 300 persen. Selain karena sepinya pembeli yang datang juga ditambah situasi pandemi Covid-19. “Di barak sementara ini mayoritas pedagang mengeluh omsetnya banyak yang turun,” kata Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Prawirotaman Paryanto Abdul Rozak Minggu (13/9)

Paryanto menjelaskan, selama berjualan ayam di barak sementara itu, ia kehilangan pelanggan biasanya. Pasalnya pelanggan banyak yang beralih ke pasar modern yang letaknya tidak jauh dari barak sementara tersebut. Barak sementara pedagang Pasar Prawirotaman berada di kawasan Menukan, Karangkajen, Brontokusuman. Menempati lahan kosong yang dibuatkan lapak sementara. “Kadang justru malah lebih banyak pedagangnya daripada pembeli,” ujarnya.

Laki-laki 50 tahun itu menyebutkan selama di barak sementara kondisi pembeli monoton tidak seperti di pasar  Prawirotaman lama. Sebelumnya, bisa memprediksi hari-hari tertentu pasar bisa dipadati pembeli atau pelanggan. “Pas tanggal-tanggal muda biasanya di sana ramainya. Kalau d isini monoton,” jelasnya.

Dia menyebut, sebelum di barak sementara persediaan dua kuintal lebih dalam sehari. Setelah pindah, menurun satu kuintal. Ditambah situasi pandemi Covid-19 hanya menyediakan stok 50 kilogram per hari. Omset dalam pendapatan menurun drastis hampir 300 persen. Dari sebelumnya pendapatan yang masuk Rp 3 juta dalam sehari. Saat ini antara Rp 700 ribu – Rp 1 juta.

Kesehariannya, tak banyak pedagang yang buka berjualan karena sepinya pembeli. Bahkan mereka kadang hanya menghabiskan waktu untuk mengobrol antar pedagang. Atau bahkan menutup lapaknya. “Kadang nyengkoh, iso bali gasik ibarat e saiki ndadak nunggoni pelanggan,” tandasnya.

Dia berharap dengan berpindahnya nanti ke pasar baru Prawirotaman geliat ekonomi bisa lebih baik. Maupun para pedagang bisa nyaman dan optimis lagi dalam berjualan. “Semoga dalam hal service tetap baik. Dan ada kemajuan omset juga,” harapnya. (wia/pra)

Jogja Raya