RADAR JOGJA – Tujuh kantor perbankan milik BNI tutup operasional sementara waktu. Berdasarkan selebaran yang beredar ketujuhnya tengah disterilisasi. Penyebabnya ada dugaan persebaran kasus Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di setiap perkantoran tersebut.

Ketujuh perkantoran ini adalah Kantor Cabang Pembantu (KCP) Adisutjipto, KCP KH. Ahmad Dahlan dan KCP Sutoyo. Adapula Kantor Kas (KK) Jogjatronik, KK Beringharjo, KK HOS Cokroaminoto, dan KK Piyungan. Dikabarkan empat pegawai terkonfirmasi positif Covid-19.

“Benar ada itu, penutupan gedung langkah yang bagus dan tepat. Begitu transmisi ketahuan langsung tutup untuk sterilisasi. Kalau yang sehat bisa WFH. Langkah ini sudah betul,” jelas Ketua Sekretariat Satgas Penanganan Covid-19 Pemprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji, ditemui di Kompleks Kantor Kepatihan Pemprov DIJ, Jumat (11/9).

Sekretaris Provinsi Pemprov DIJ ini berharap, penerapan protokol Covid-19 berlaku ketat. Termasuk di lingkup kerja perkantoran. Telrbih persinggungan dalam wilayah ini cenderung intens dan erat.

Di satu sisi Aji mengakui penerapan ini tidaklah mudah. Lingkup kerja perkantoran cenderung menanamkan rasa percaya. Alhasil penerapan protokol Covid-19 tidak seketat seperti di ruang publik.

“Kantor pelayanan publik juga riskan, karena bertemu dengan banyak orang. Maka dari itu kuncinya adalah diisplin protokol Covid-19. Nanti kami cek lagi, kalau ada kantor yang tidak memenuhi persyaratan,” katanya.

Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi berharap, munculnya kasus ini menjadi evaluasi bersama. Khususnya dalam penerapan protokol Covid-19 di lingkungan perkantoran. Tujuannya agar tak muncul lagi kasus dari wilayah tersebut.

Ketua Satgas Covid-19 Kota Jogja ini tak menampik angka kasus perkantoran cukup tinggi. Setidaknya menduduki peringkat setelah kasus lingkungan keluarga. Artinya persebaran justru terjadi di lingkup kedekatan antar individu.

“Perkantoran akhir-akhir ini kecenderungan yang muncul terjadinya sebaran (Covid-19) selain di rumah. Harapannya lebih waspada karena biasanya melupakan berbagai prokotol,” ujarnya ditemui di kawasan Taman Pintar Jogja.

Pernyataan Heroe sangatlah beralasan. Potensi penularan bukan berarti muncul kasus awal di perkantoran. Karyawan dengan mobilitas tinggi adalah salah satunya. Saat kembali ke kantor inilah terjadi potensi persebaran.

Berdasarkan data Satgas Covid-19 Kota Jogja ada peningkatan drastis angka kasus. Lonjakan mulai terjadi memasuki medio Agustus. Angka kasus terus bertambah memasuki pertengahan September.

“Nah yang tidak bisa dipantau kan mobilitas di luar kantornya. Kemana, bahkan bisa saja tepapar di jalan. Lalu masuk kantor dan pulang ke rumah,” katanya.

Potensi bahaya meningkat saat pasien berstatus positif asimptomatik. Tak adanya gejala membuat mobilitas tak terkendali. Berbeda saat seorang pasien memiliki gejala Covid-19. Langkah selanjutnya adalah memeriksakan diri dan berlanjut isolasi.

“Kalau bergejala pasti berusaha memisahkan diri, tapi kalau OTG karena tidak merasa sakit maka aktivitasnya normal. Mumpung masih mampu mengendalikan dan sebaran belum luas, maka protokol Covid-19 adalah pertahanan yang riil,” ujarnya. (dwi/ila)

Jogja Raya