RADAR JOGJA – Setiap tahun, pohon asem di Monjali berbuah banyak. Namun biasanya hanya dibiarkan begitu saja untuk makanan burung-burung di kawasan itu. Bahkan tak sedikit juga yang berceceran dan tidak dimanfaatkan. Kini, buah asem itu dimanfaatkan untuk dijadikan minuman, yakni wedang asem dan dibagikan gratis kepada para pengunjung.

 

JIHAN ARON VAHERA, Sleman, Radar Jogja

Dengan cekatan dan telaten, di bawah pohon asem sisi timur halaman Museum Monjali beberapa orang mengolah minuman wedang asem. Yakni, dari tim panjat Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) UPN “Veteran” Yogyakarta (UPNVY).

Di sampingnya, terlihat anak-anak memanjat pohon asem dengan menggunakan sejumlah perlengkapan panjat pohon. Mereka tergabung dalam komunitas anak pemanjat pohon Jogja Adventure Kids (JAK). Mereka dengan semangat memanen asem untuk kemudian diolah menjadi minuman.

“Musim kemarau ini kan biasanya beberapa jenis buah-buahan itu panen, termasuk asem ini. Melihat hal itu, kami manfaatkan untuk kegiatan ini. Untuk melatih keterampilan anak dalam memanjat, sekaligus mengajarkan kepada anak-anak tentang apa itu berbagi di tengah pandemi,” kata Koordinator Museum Monjali Berbagi Wedang Asem saat ditemui Radar Jogja, Kamis (10/9).

BERMANFAAT: Monjali bekerja sama dengan Mapala UPNVY dan JAK memanfaatkan buah asem milik Monjali untuk dibuat wedang asem guna meningkatkan kekebalan tubuh saat pandemi.( JIHAN ARON VAHERA/RADAR JOGJA )

Pohon asem yang dipanjat ada 15 pohon. Zaeni mengatakan, ada dua cara untuk memanen asem itu, yakni dengan alat climbing dan manual. “Tergantung dengan tingkat kesulitan pohonnya. Kalau anak-anak nanti akan dibantu oleh yang dewasa,” jelasnya.

Zaeni mengatakan, belasan pohon asem tua yang berada di sisi timur halaman itu buahnya cukup banyak. “Daripada tidak dimanfaatkan, jadi kami olah agar lebih bermanfaat untuk orang lain,”  katanya

Kegiatan itu sudah dilakukan sejak Selasa (8/9) lalu. Namun belum sampai pada mengolah dan dibagikan. “Baru hari ini kami olah, dan rencananya hari ini ada 200 cup minuman yang akan kami bagikan. Tapi nanti menyesuaikan tenaga kami, karena terbatas,” ungkapnya.

Rencananya kegiatan itu akan terus dilakukan selagi buah asem masih ada. “Akan kami bagikan ke pengunjung Monjali, orang-orang berjualan, pos polisi, orang-orang yang ada di jalan, dan sebagainya. Nantinya akan kami evaluasi terutama terkait pendistribusiannya. Kalau dari bahan jelas kami melimpah,” tutur Zaeni.

Minuman olahan ini terdiri atas berbagai macam empon-empon. Seperti jahe, daun serai, kayu secang, buah asem, dan gula. Wedang asem tersebut dipercaya mengandung vitamin C dan antioksidan yang mampu menjaga kekebalan tubuh.

Manajer Operasional Monjali Nanang Dwi Narto mengatakan, Museum Monjali memiliki ruang terbuka hijau yang cukup luas. Pohon yang menjulang tinggi sudah berumur sekitar 30 tahun. “Biasanya setiap panen buah asem ini dibiarkan begitu saja untuk makan burung-burung,”  ungkapnya.

Dikatakan, setiap tahun pohon asem di Monjali pasti berbuah. “Kan buah asem itu banyak jenisnya. Nah pohon asem yang di Monjali ini jenis pohon asem yang manis,” katanya.

Dia sangat mengapresiasi dan mendukung kegiatan itu. “Bagus sekali ya, jadi buah-buah asem milik Monjali ini bisa bermanfaat untuk warga sekitar. Terutama saat ini kan masa pandemi untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Saya berharap kegiatan ini bisa terus berlanjut setiap tahun,”  harapnya.  (laz)

Jogja Raya