RADAR JOGJA – Tiga kasus muncul hampir bersamaan di wilayah administrasi Kecamatan Danurejan. Awalnya kasus pedagang kelontong disusul pedagang Malioboro dan terakhir pegawai KUA Danurejan. Tracing kepada ketiga kasus masih berlangsung oleh Satgas Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi memastikan ketiganya tak saling terhubung. Setiap kasus memiliki riwayat yang berbeda. Mulai dari asal mula kasus hingga persebaran kasus. Titik munculnya kasus juga saling berjauhan.

“Kasus KUA (Danurejan) diduga terkait riwayat perjalanan luar kota salah satu stafnya, kasus kelontong terkait suami yang mobilitas tinggi dan kasus Malioboro belum ditemukan jelas penyebab darimana. Jadi itu kasus terpisah,” jelasnya dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa malam (8/9).

Penambahan kasus terjadi untuk kasus pedagang Malioboro dan KUA Danurejan. Detilnya masing-masing memiliki kontak erat pasien. Bahkan diketahui kasus baru memiliki hubungan darah dengan pasien kasus awal.

Kasus terbaru pedagang Malioboro, lanjutnya, adalah anak pasien kasus awal. Sosok ini memiliki kontak sangat erat dengan pasien. Bahkan sempat merawat dan mengantarkan ke rumah sakit.

“Anak almarhumah (kasus awal Malioboro) selama ini tinggal bersama dan merawat juga konfirmasi positif. Sedangkan enam lainnya masih menunggu giliran diswab, termasuk pedagang. Proses tracing masih terus dikembangkan, termasuk untuk swabnya,” katanya.

Untuk kasus KUA Danurejan terjadi penambahan satu kasus. Tepatnya suami dari salah satu staf kantor tersebut. Walau begitu, Heroe memastikan kedua kasus ini belum menjadi kaster baru.

“Belum jadi klaster, untuk kasus-kasus yang di Danurejan. Kalau hasilnya (uji swab PCR) keluar baru bisa dipastikan. Tapi ini semua kasus masih generasi pertama,” ujarnya.

Data Satgas Covid-19 Kota Jogja menyebutkan mayoritas kasus adalah positif asimptomatik. Artinya seluruh pasien Covid-19 tak memiliki gejala. Bahkan hampir mendominasi dari keseluruhan kasus.

Pemkot Jogja sendiri merespon dengan peningkatan ruang isolasi. Dikhususkan kepada para pasien terkonfirmasi positif asimptomatik. Sementara untuk pasien positif simtomatik menjalani rawat inap isolasi di rumah sakit rujukan.

“Kami sedang mengupayakan shelter baru. Sebab perkembangan yang terjadi menuntut untuk lebih waspada terhadap sebaran OTG,” katanya.

Pihaknya juga telah membuka komunikasi kepada manajemen perhotelan. Tujuannya untuk memanfaatkan kamar hunian sebagai ruang isolasi pasien asimptomatik. Sayangnya upaya ini tak berjalan mulus. Ini karena beberapa hotel telah beraktivitas normal.

Permasalahan lain adalah penuhnya balai Diklat di wilayah Kota Jogja. Diketahui bahwa sejumlah instansi telah menggelar pelatihan. Artinya aktivitas ini juga turut memanfaatkan balai Diklat instansi.

“Mess atau balai diklat hampir semuanya sedang digunakan untuk pendidikan. Beberapa masih diusahakan dengan minta ijin karena dikelola oleh pusat. Adapula opsi untuk membuat rumah sakit lapangan jika tidak segera ditemukan tempat yang layak dan memadai,” ujarnya. (dwi/tif)

Jogja Raya