RADAR JOGJA – Satu pedukuhan di Desa Semawung, Kecamatan/Kabupaten Purworejo, harus hidup terpisah dari warga lainnya. Mereka lebih banyak berkomunikasi dengan warga di desa dan kecamatan berbeda. Ketiadaan akses jembatan menjadi pemicu hal ini. Untuk merealisasikan jembatan dilakukan dengan perjuangan panjang.

BUDI AGUNG, Purworejo, Radar Jogja

Wahyu Edhi Purnomo, 42, tampak hati-hati saat mengendarai jalan menurun yang dipenuhi kerikil. Kakinya harus cekatan menginjak rem belakang dan tangan kirinya berusaha menyelaraskan rem ban depan, agar motor bebeknya tidak tergelincir dan jatuh.

Ya, seiring surutnya Sungai Kebangsaan yang membelah desanya, lelaki yang menjabat kepala dusun itu lebih memilih menyeberangi sungai daripada menggunakan jalan raya yang ada. Jarak tempuh yang lebih dekat menjadi pilihan, sehingga bisa menghemat banyak waktu.

Tapi lain ceritanya jika musim penghujan tiba. Jalan dadakan selebar setengah meter itu tidak bisa dilalui. Aliran sungai memangkas jalan yang ada, yang membuat warga harus menggunakan jalan umum yang melintas di Desa Kemanukan, Kecamatan Bagelen dan Desa Ganggeng di Kecamatan Purworejo, sebelum mencapai tempatnya bekerja di Balai Desa Semawung.

“Sepanjang yang saya tahu, di tempat ini belum pernah ada jembatan. Sungai yang ada sekarang juga sudah bergeser dari posisi semua saat saya masih kecil,” kata Wahyu Edhi Wibowo saat ditemui Radar Jogja Senin (7/9).

Dari perhitungan yang pernah dilakukan, untuk membangun jembatan itu akan memiliki panjang sekitar 325 meter. Dengan bentang yang ada itu sendiri, diprediksi akan menelan biaya pembangunan Rp 500 miliar.

Nilai sebesar itu memang tidak mungkin langsung didanai desa dengan sekali pembangunan. Mulai tahun depan, rencananya akan dimulai dengan membangun pengaman terlebih dahulu. “Memang kami sangat berharap ada jembatan, tapi ya tahu dirilah dengan dana yang dibutuhkan,”  tambahnya.

Ketiadaan jembatan itu memang mau tidak mau membuat warga Sucen yang memiliki 84 kepala keluarga lebih erat silaturahminya dengan desa tetangga. Demikian halnya dengan pendidikan, anak di Sucen untuk jenjang penididikan dasar memilih bersekolah di Kemanukan. “Ya, mau bagaimana lagi. Sebenarnya pengen sekolah di desa sendiri. Tapi kalau harus ke Semawung mutar 3 km,” tambahnya.

Hal lain yang sebenarnya juga menjadi alasan pengadaan jembatan mendesak adalah lebih banyaknya tanah bengkok desa yang berada di wilayah Sucen. Secara otomatis, dari proses penggarapan hingga pemanenan, para penggarapnya harus menempuh waktu lama untuk bisa mencapai lokasi.

Kepala Desa Semawung Kecamatan Purworejo Samud Purnomo juga telah memikirkan keberadana jembatan itu. Pihaknya tidak terlalu muluk untuk merealisasikan jembatan tersebut menggunakan dana desa yang dimiliki.

“Semua dilakukan secara bertahap. Kita tidak mungkin memberikan anggaran seluruhnya untuk pembangunan jembatan itu. Karena akan memicu rasa iri dusun yang lain,” kata Samud.

Dirinya yakin nilai yang dibutuhkan tidak akan mencapai setengah triliun lebih seperti yang pernah disampaikan oleh Pemkab Purworejo. Karena dia memiliki gambaran untuk membangun jembatan yang lebih sederhana, namun bisa dilalui kendaraan roda empat.

“Ada contoh jembatan yang bisa kita duplikasi di Desa Pacekelan, Purworejo. Memang tidak lebih panjang dari sungai yang melintas di Desa Semawung, tapi konstruksinya kuat,” ungkap Samud.

Harapan lain yang dibangun dari keberadaan jembatan itu, selain sebagai sarana transportasi warga juga menjadikan sebagai destinasi wisata. Ini akan memperkuat destinasi lain yang juga ada di Semawung.

“Tentunya saat proses pembangunan jembatan itu dimulai, kami tidak akan meninggalkan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang untuk berkonsultasi,”  tambah Samud. (laz)

Jogja Raya