RADAR JOGJA – “Matur nuwun do tilik aku (terima kasih sudah menjengukku, Red),”  ucap Mbah Supri berkali-kali saat seorang anggota Bhabinkamtibmas Notoprajan Aiptu Suyono menyambangi kediamannya di kawasan Taman Sari, Yogyakarta . Dia adalah Hadi Suprihatin, warga RT.26. RW.04. Tejokusuman Notoprajan.

Mbah Supri, begitu ia kerap disapa, hidup dalam keterbatasan. Perempuan yang telah menginjak usia 86 tahun ini tidak dapat beraktivitas sebagaimana mestinya. Sudah bertahun-tahun, Mbah Supri tidak dapat menggunakan anggota tubuhnya. Ya, ia adalah seorang tunadaksa. Bersama cucunya yang seorang tuna grahita.  Dia menggantungkan hidup pada belas kasih tetangga.

Saat dikunjungi, ia terbaring di balik pintu rumah yang tidak begitu luas. Di sana, masih terlihat sisa api yang sempat melalap rumahnya pada 2019 lalu. Beralaskan kasur tua miliknya, Mbah Supri menghabiskan hari dengan segala aktivitasnya yang terbatas.

Meski begitu, Mbah Prih masih mengingat beberapa orang. Saat Aiptu Suyono datang memberikan bantuan, dia mengaku pangling. “Suyono ki ora gundul,” ujarnya kepada anggota Polsek Ngampilan itu.

Marjinah, tetangga terdekatnya, mengaku bahwa para tetanggalah yang selalu mengurus kebutuhan hidup Mbah Supri.  “Kalau ada apa-apa itu (yang mengurus) tetangga,” jelasnya saat menemani Mbah Supri siang itu.

Tak hanya itu, Marjinah mengaku bahwa tidak ada sanak saudara yang merawat Mbah Supri di tengah kondisinya yang seperti ini.  “Iya seperti itu (keadaannya). Pokokke semua (aktivitas) di situ wong tidak ada (keluarga) yang ngurusi kok,” tutur Marjinah.

Dari perangainya, Mbah Supri adalah sosok periang. Tidak ada raut sedih yang tergambar di wajah Mbah Supri. Meskipun tubuhnya renta, Mbah Supri masih cakap berjenaka. Sesekali ia melontarkan canda pada orang-orang di sekelilingnya.

Aku mbiyen ayu yo, saiki ora to? (aku dulu cantik, sekarang tidak ya?-red)” ucapnya seraya menutup muka dengan kedua tangannya. Tak hanya itu, Mbah Prih juga masih suka guyon. Ketika ditanya berapa usianya, “Pitulas, pipi kempot untu telas.”

Ini bukan kali pertama Aiptu Suyono mengunjungi Mbah Supri. Hatinya tergerak melihat kondisi Mbah Supri yang sungguh memprihatinkan. Berbagai hal sudah diupayakan untuk membantu meringankan beban Mbah Supri. Dia kerap menyambangi Mbah Supri dengan membawakan beberapa bekal. Dititipkan ke tetangga untuk dimasakkan ke Mbah Supri.

“Waktu itu mau tak antar ke dinas sosial tapi beliau tidak mau. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Paling tidak, saya mengontrol,” jelas Suyono. (mg1/bah)

Jogja Raya