RADAR JOGJA – Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi membenarkan adanya informasi satu pedagang Malioboro meninggal. Pedadang ini terkonfirmasi positif Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Perempuan berusia 68 tahun ini berjualan di zona 3 Malioboro dan meninggal Jumat malam (4/9).

Dari data terhimpun pasien ini berjualan tas dan dompet. Pedagang ini juga sempat berjualan hingga mendekati penghujung Agustus, tepatnya hingga 26 Agustus. Baru setelahnya tak berjualan kembali hingga dikabarkan meninggal.

“Jadi yang bersangkutan itu sempat aktif jualan dari 20 sampai 26 Agustus. Jualannya dari pagi sampai malam. Lalu 27 Agustus sudah tidak jualan, karena badan terasa demam saat sore hari, lemas dan batuk,” jelasnya, Senin (7/9).

Pasca sakit, pasien langsung memutuskan istirahat di rumah. Tak kunjung sembuh lalu memeriksakan diri ke Puskesmas setempat awal September (1/9). Akibat kesehatan tak kunjung membaik lalu dirujuk ke rumah sakit dihari berikutnya (2/9).

Dari hasil uji medis, rapid diagnostic test (RDT) dinyatakan reaktif. Saat lanjut swab pasien dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19 Jumat (4/9). Pasien ini mengalami henti nafas pada Jumat sore. Jenasah dimakamkan di Kulonprogo pada malam harinya.

“Dalam upaya tracing sejak Sabtu pagi (5/9), dua ruas PKL di zona 3 yang ada delapan PKL sudah kami liburkan. Kedua ruas ini jualannya dekat dengan ibu itu (pasien Covid-19),” katanya.

Upaya tracing berlangsung sejak Jumat malam. Diawali dengan kontak erat pasien terkonfirmasi positif Covid-19. Baik pedagang kawasan Malioboro hingga keluarga di lingkungan rumah, wilayah Suryatmajan Kecamatan Danurejan, Jogja.

Tindakan tracing menyasar tujuh anggota keluarga. Sementara untuk pedagang kawasan Malioboro mencapai 12 orang. Untuk saat ini seluruhnya telah menjalani isolasi mandiri dan tidak berjualan.

“Keluarganya yang kontak erat yaitu anak, menantu, dan cucunya. Anak dan menantu yang mengantar berobat ke pPskesmas dan yang sempat menggantikan jualan. Termasuk yang sempat shalat jemaah untuk almarhumah juga diminta isolasi mandiri,” ujarnya.

Heroe memastikan belum ada kebijakan menutup kawasan Malioboro. Langkah antisipasi dilakukan dengan menonaktifan sementara dua ruas lokasi berjualan. Hanya saja dia berpesan agar pedagang patuh menjalankan protokol Covid-19.

Berdasarkan data QR Code, jumlah pengunjung dalam rentang waktu 18 hingga 27 Agustus mencapai 30.116 orang. Dari jumlah tersebut yang masuk zona 3 Malioboro mencapai 3.698 orang. Dia meminta agar warga maupun pedagang tak berspekulasi atas munculnya kasus ini.

“Penyebab penularan masih ditelusuri, apakah dari pembeli atau dari lainnya belum bisa ditentukan. Jangan berspekulasi apapun terhadap kasus ini,” katanya.

Penonaktifan dua ruas pedagang PKL berlangsung selama tracing. Setidaknya hingga seluruh hasil kontak erat diumumkan. Pihaknya juga terus berkoordinasi dengan para ketua Paguyuban pedagang di kawasan Malioboro.

Heroe meminta agar para ketua paguyuban selektif. Pedagang yang diijinkan berjualan harus usia muda. Selain itu juga tak memiliki riwayat penyakit bawaan atau komorbid.

Sementara untuk riwayat sakit pedagang PKL, Heroe belum bisa memastikan. Hanya saja dia sempat menerima dua penjelasan. Berdasarkan versi pedagang, sosok pasien ini memiliki riwayat sakit asma dan sering kambuh.

“Tapi ketika dicek oleh puskesmas tidak ada keterangan tersebut dan setiap harinya tidak mengkonsumsi obat sebagai orang yang punya penyakit,” ujarnya. (dwi/ila)

Jogja Raya