RADAR JOGJA – Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) kembali digelar. Tahun ini, mengusung tema besar #mulanira2, merupakan lanjutan tema FKY 2019 #mulanira. Sebuah kata yang diambil dari bahasa Jawa Kuno yang berarti wiwitan atau pada mulanya. Selaras dengan tujuan FKY untuk mengenalkan beragam kebudayaan di Jogjakarta.

Karena digelar di tengah situasi Pandemi Covid-19, FKY 2020 digelar secara virtual. Direktur utama FKY Paksi Raras Alit menjelaskan, transformasi FKY ke panggung virtual ini mempunyai tantangan yang tak mudah ditaklukkan. Sebab tak semua kegiatan seni dan budaya bisa dinikmati ketika medianya berganti. 

“Contohnya pameran seni, pameran itu kehilangan rasa jika disajikan melalui virtual. pengunjung pameran terbiasa menikmati secara detil karya-karya di pameran, untuk itu pameran seni rupa tetap dihadirkan secara langsung,” jelasnya dalam jumpa pers di Dinas Kebudayaan DIJ, Senin (7/9).

Kendati FKY 2020 tetap akan hadir dalam wujud pameran seni rupa bertajuk ‘Akar Hening di Tengah Bising’ di kompleks Museum Sonobudoyo pada 21- 26 September mendatang dengan kunjungan terbatas. Dibuka mulai pukul 10.00-18.00, jumlah pengunjung dibatasi hanya 30 orang per sesi. Pengunjung wajib melakukan registrasi terlebih dahulu dan menggunakan masker selama berkunjung.

Pameran ini menghadirkan 33 seniman dengan ragam sebaran medium mulai dari lukisan, patung, instalasi, fotografi, audio visual, dan performance yang ditampilkan dengan format kunjungan langsung dan kunjungan virtual melalui lama  www.fkymulanira.com.

“FKY tetap menghadirkan galeri virtual dengan pemanfaatan teknologi kamera 360 derajat,” tambah Direktur Kreatif FKY Gintani Nur Apresia Swastika.

Gintani menyebutkan beberapa seniman yang berpartisipasi di antaranya Sugeng Oetomo, Biosci, The Freak Show Man, Wok The Rock, Timoteus Anggawan Kusno, Handiwirman Saputra, dan lain-lain.

Manajer Pameran Seni Rupa FKY Sukma Smita menerangkan, hadirnya Sugeng Oetomo membuat FKY lebih menarik. Sebab penata lampu pertunjukan tersebut memiliki semangat yang sama dengan tajuk ‘Akar Hening di Tengah Bising’.

“Kemudian ada Bioscil, yaitu pegiat film yang fokus memberikan edukasi tontonan pada anak-anak di sekolah dan kampung-kampung, aktivitas mereka didasarkan atas kegelisahan pada tontonan anak-anak hari ini yang tidak sesuai dengan usia mereka,” jelas sukma.(*/sky/tif)

Jogja Raya