RADAR JOGJA – Sebanyak 420 bibit telur nyamuk Wolbachia disebar di Kelurahan Rejowinangun, Kota Jogja. Ini sebagai upaya untuk mendapatkan predikat zero penderita demam berdarah dengue (DBD).

Jumlah bibit telur nyamuk Aedes Aegypti ber-Wolbachia disebar di 13 RW dan 50 RT se-Kelurahan Rejowinangun. Peletakan bibit telur nyamuk itu telah melalui survei kader World Mosquito Program (WMP) dan kader kesehatan bersama Puskesmas Kotagede II.

“Peletakannya sudah melalui survei wilayah dan tingkat kepadatan penduduk serta kondisi lingkungan,” kata Lurah Rejowinangun Wulan Purwandari kepada Radar Jogja Rabu (2/9).

Wulan menjelaskan, kasus DBD secara umum di wilayah Rejowinangun yang dipimpinnya selalu menjadi tren kasus penderita DBD tertinggi se Kota Jogja. Terlebih tiga kelurahan di Kecamatan Kotagede, selain Rejowinangun, Purbayan dan Prenggan selalu bergantian kasus penderita DBD.

“Kami semacam kayak berebut banyakan penderita DBD. Memang kami memiliki lokasi-lokasi di mana nyamuk mudah berkembang biak, kami risih lama-lama,” ujarnya. Pasalnya, ia telah melakukan upaya menekan kasus penderita DBD dengan beberapa program. Salah satunya melalui program emberisasi yakni mengganti bak mandi dengan ember sejak tahun 2017.

Sejumlah 100 ember dibagikan kepada masyarakat dengan kriteria ember paling besar berukuran maksimal 60-80 liter. Diklaim program ini menggerakkan masyarakat rajin menguras ember dan bisa menekan kembang biak telur nyamuk itu, karena setiap saat airnya wajib diganti. “Karena bak mandi zaman dulu besar-besar, orang malas menguras. Tapi ternyata belum bisa menurunkan kasus,” jelasnya.

Oleh karena itu, dengan peletakan ember telur nyamuk Aedes Aegypti ber-Wolbachia diharapkan menjadi program yang bersinergi dengan emberisasi yang terus dilaksanakan. Disamping program jumantik dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). “Dengan Wolbachia ini semoga nyamuknya tidak membawa virus DBD lagi,” tambahnya.

Teknis penanaman telur nyamuknya yaitu bibit telur nyamuk yang dimasuki bakteri Wolbachia dimasukkan ke dalam ember yang sudah berisi air agar nyamuk dapat berkembang biak. Kemudian ember tersebut diletakkan di rumah beberapa warga dan fasilitas umum agar nyamuk dapat kawin dengan nyamuk lainnya di sekitar.

Seluruh nyamuk yang ada sudah ditempeli bakteri Wolbachia yang dapat membasmi virus Aedes Aegypti. Setiap ember terdapat 100-150 telur nyamuk. Pemntauannya melalui jumantik, kader kesehatan dan promkes dari puskesmas bersama dengan WMP.

“Nanti nyamuknya ada sebanyak itu dikalikan 420 bibit telur yang tersebar tadi. Harapan kami jelas kita zero penderita jangan sampai ada lagi yang kena DBD karena tergigit nyamuk di wilayah kami,”  harapnya.

Ahli Epidemiologi UGM Riris Andono Ahmad mengatakan, pengalaman sebelumnya pernah diintervensi dengan hal yang sama di wilayah Tegalrejo dan Wirobrajan pembandingnya di Kotagede. Ternyata mampu memberikan efek paling tinggi mencapai 77 persen. Perbandingannya dalam periode tahun 2017-Maret 2020. “Bandingannya kalau misalnya di wilayah kontrol ada 100 kasus saat ini, maka di wilayah intervensi itu ada 33 kasus,” katanya.

Sampai tahun ini ia merencanakan melengkapi atau menutup di wilayah-wilayah yang sebelumnya menjadi wilayah pembanding seperti di Kotagede dan ada beberapa wilayah. “Jadi dulu Jogja dibagi 24 klaster, waktu itu 12 diberi Wolbachia dan 12 tidak diberi Wolbachia. Kemudian yang 12 ini saatnya kami beri Wolbachia, harapan kami bisa sampai akhir tahun,” tambahnya.

Sementara, Wawali Jogja Heroe Poerwadi (HP) mengatakan, penyebaran nyamuk Wolbachia bertujuan menginfeksi nyamuk-nyamuk Aides Aegypti dan dapat membasmi. “Tidak perlu risau dengan banyaknya nyamuk, nanti karena konteknya untuk menginfeksi. Itu bagian dari mengembangbiakkan agar nyamuk ber-Wolbachia semakin banyak,” pesannya.

Sebanyak 12 kecamatan lain lebih dulu diintervensi dengan Wolbachia sejak 2011. Namun masih ada beberapa wilayah yang muncul kasus DBD. Jika dibandingkan tahun 2016 mencapai 1.700  kasus DBD di kota Jogja. Dan tahun lalu penurunan cukup drastis hanya tinggal sekitar 200-300 kasus DBD.

Artinya Wolbachia mempunyai bukti signifikan bahwa setiap wilayah yang sudah dikembangbiakkan nyamuk-nyamuk ini dapat menurunkan semakin banyak kasus DBD. “Harapan kami nanti semua wilayah Kota Jogja sudah ber-Wolbachia semua nyamuknya. Insya Alah semakin rendah kasusnya,” tambahnya. (wia/laz)

Jogja Raya