RADAR JOGJA – Memasuki masa kenormalan baru (new normal), sektor ekonomi dan industri di DIJ kembali menggeliat. Di Gunungkidul misalnya, setidaknya ada 10 perusahaan menarik kembali karyawannya yang sempat dirumahkan karena dampak pandemi Covid-19.

Kepala Bidang (Kabid) Tenaga Kerja, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Gunungkidul Ahsan Jihadan mengatakan, selama ini ada seribu lebih karyawan yang dirumahkan. “Berdasarkan monitoring dari sampel 10 perusahaan telah mengaktifkan semua pekerja, kecuali PT Woneel Midas Leathers (WML) di Bangunsari, Candirejo, Semin,” katanya saat dihubungi Rabu (2/9).

Namun demikian pihaknya belum bisa menyampaikan data pasti jumlah karyawan yang kembali bekerja setelah dirumahkan. Ini karena tidak semua perusahaan melapor. Tapi secara bertahap karyawan mulai diaktifkan. “Dari 10 perusahaan yang kami monitoring, 829 karyawan dirumahkan sudah dipekerjakan kembali,” ujarnya.

Karena input data masih berlangsung, Disnakertrans meminta perusahaan agar melaporkan jumlah karyawan yang sudah diaktifkan bekerja. Menurutnya, total karyawan dirumahkan selama pandemi sebanyak 1.907 karyawan.

Sementara itu, Human Resources Development PT WML Ngemaludin ketika dikonformasi mengenai nasib karyawan yang dirumahkan menyampaikan kabar baik. Dia memastikan tenaga kerja yang sempat dipulangkan sudah aktif kembali.

“Sebanyak 180-an karyawan sudah kembali bekerja,” kata Ngemaludin. Lebih jauh dikatakan, tenaga kerja lokal menjadi prioritas. Akan tetapi dalam rekrutmen tidak bisa menampung 100 persen.

Dia memastikan tidak ada kata sulit bagi warga lokal masuk. Mengenai fasilitas kesehatan, semua tenaga kerja masuk dalam kepesertaan BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan.

Baru 35-40 Persen

Wisatawan Terdata

Sementara itu di sektor pariwisata, uji coba pembukaan aktivitas pariwisata terus berlanjut di masa perpanjangan tanggap darurat.  Tiap wisatawan yang masuk wajib terdata di aplikasi Jogja Pass dan Visiting Jogja. Namun, baru 45-50 persen wisatawan yang terdata melalui aplikasi ini.

Kepala Dinas Pariwisata  (Dispar) DIJ Singgih Raharjo menjelaskan, ia terus mengevaluasi uji coba pembukaan wisata. “Terus memperbaiki dari sisi fasilitas. Peningkatan kompetensi pengelola juga kami tingkatkan dengan mengajak menjadi wisatawan yang bijak,”  katanya Rabu (2/9).

Untuk meningkatkan kewaspadaan, dilakukan dengan memonitorimg destinasi wisata yang banyak dikunjungi. Untuk memastikan bahwa penegakan protokol kesehatan (prokes) berjalan dengan baik.

Sebanyak 71 destinasi wisata yang beroperasi didorong untuk terus memaksimalkan penerapan prokes. Penerapannya tak boleh melonggar karena wisatawan mulai ramai. “Juga ada disinfektasi secara total di destinasi. Biasanya di hari Senin,” katanya.

Dia menegaskan, pariwisata belum dibuka secara penuh. Masih ada pembatasan dari sisi jumlah pengunjung, hari, maupun jam operasional. Singgih mendorong wisatawan melakukan pendaftaran di Visiting Jogja. Tujuannya, mencegah adanya antrean panjang serta mempermudah melakukan pemantauan pengunjung yang masuk di destinasi. “Kami dorong reservasinya. Supaya sampai sana tidak ngantre. Atau petugas yang harus ngentri. Ini kan perlu edukasi,” jelasnya.

Rata-rata jumlah kunjungan yang tercatat di aplikasi Visiting Jogja mencapai 30 ribu-40 ribu saat akhir pekan. Namun Singgih memprediksi jumlah wisatawan yang datang jauh lebih banyak. Sebab yang tercatat di aplikasi baru sekitar 35-40 persen.

“Kami ingin dorong terus karena ini kan masih uji coba. Seperti itu menurut saya sudah awal yang baik, tetapi tetap kami ingkatkan terus,”  paparnya.

Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda DIJ Tri Saktiyana mengungkapkan, aktivitas pariwisata perlu dibuka karena ekonomi DIJ sangat bergantung pada sektor ini. “Pariwisatanya kami  siapkan dan tentu dengan tata cara yang aman. Baik menggunakan teknologi dan sebagainya, agar wisatawan tidak asal banyak tapi aman,”  jelasnya.

Untuk wisatawan yang datang pun jangan hanya didorong dari segi kuantitas, melainkan juga kualitas. “Untuk wisata, tolong kejar pariwisata yang kualitatif. Jangan hanya mengejar jumlah wisatawan tapi belanjanya sedikit,” jelas Tri. (gun/tor/laz)

Jogja Raya