RADAR JOGJA – Program nyamuk ber-wolbachia berdampak signifikan di Kota Jogja. Riset tim World Mosquito Progam (WMP) Jogjakarta angka kasus demam berdarah turun hingga 77,5 persen.

Dari 100 kasus menjadi 33 kasus per wilayah intervensi. Cakupannya adalah 12 Kecamatan di wilayah Kota Jogja.
Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi mengapresiasi program ini. Dia berharap agar cakupan pelepasan nyamuk ber-wolbachia lebih luas. Sehingga 14 Kecamatan di wilayah telah terintervensi oleh program tersebut.

“Program ini sudah berjalan sejak 2011 dengan intervensi di 12 kecamatan. Ternyata dampaknya signifikan yaitu turunnya angka kasus demam berdarah. Tahun 2016 ada sekitar 1.700 kasus sekarang tinggal 200 kasus,” jelasnya ditemui usai pelepasan nyamuk ber-wolbachia di Kantor Kelurahan Rejowinangun Kotagede, Rabu (2/9).

Salah satu wilayah dengan angka kasus tertinggi adalah Kecamatan Tegalrejo. Setelah menjadi percontohan awal, angka kasus demam berdarah di wilayah ini perlahan menurun. Hingga akhirnya diputuskan intervensi berlaku di seluruh wilayah Kota Jogja.

Di satu sisi, Heroe tak menampik masih adanya penolakan warga. Ini karena wujud dari program yang seakan tak wajar. Berupa pelepasan nyamuk demam berdarah ber-wolbachia. Terbukti warga sempat menolak ember penetasan milik tim WMP Jogjakarta.

“Tapi warga perlahan paham, bahwa nyamuk yang dilepas itu beda. Saat bereproduksi dengan nyamuk liar maka mulai berdampak. Akhirnya jumlah nyamuk penyebab demam berdarah mulai menurun,” katanya.

Adanya program ini tak berdampak pada program kesehatan milik pemerintah. Termasuk adanya juru pemantau jentik (Jumantik) di wilayah Kota Jogja. Tim ini tetap bertugas secara normal. Melakukan pengamatan di lingkup rumah dan lingkungan warga.

Dia juga mengimbau warga tetap membersihkan lingkungan rumah. Seperti membuang genangan air, menguras bak mandi dan kolam secara berkala. Heroe juga tak melarang penggunaan obat nyamuk di setiap rumah warga.

“Teman-teman kami minta pasca selesainya uji coba ini tetap lakukan monitoring agar semuanya terkendali. Jumantik tetap keliling dan memeriksa rumah warga,” ujarnya.

Peneliti Pendamping WMP Jogjakarta Riris Andono Ahmad menuturkan pelepasan nyamuk ber-wolbachia diawali dengan penelitian. Setidaknya ada dua penelitian yang dilakukan. Selain wilayah intervensi adapula wilayah non intervensi sebagai pembanding.

Hasil dari pelepasan nyamuk ber-wolbachia sangat signifikan. Angka kasus di dua kecamatan percontohan, Tegalrejo dan Wirobrajan turun hingga 76 persen. Dikuatkan dengan adanya kajian secara umum. Kota Jogja mengalami penurunan angka kasus demam berdarah hingga 77 persen.

“Sebenarnya bisa lebih tinggi saat yang diintervensi kalau satu kota. Kota Jogja ada 24 klaster, 12 diawal dan kini mulai dilengkapi semuanya. Harapannya sampai akhir tahun semua wilayah di Kota Jogja telah terintervensi. Menyusul kemudian Sleman dan wilayah lainnya,” katanya. (dwi/ila)

Jogja Raya