RADAR JOGJA – Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi membenarkan beredarnya informasi satu keluarga di Lempuyangan terkonfirmasi positif Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Catatan Satgas Covid-19 Kota Jogja ada satu pasien meninggal. Berlanjut dengan tracing dan hasilnya dua dari empat anggota keluarga positif Covid-19.

Pasien ini meninggal 26 Agustus. Uji swab terhadap pasien dilakukan sehari sebelumnya atau 25 Agustus. Hasil swab atas pasien laki-laki ini keluar 29 Agustus. Artinya pasien sempat menjalani rawat inap isolasi sebelum dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19.
“Setelah sebelumnya rapid tes dan rawat inap. Memang ada gejala demam, batuk, sesak nafas dan keringat dingin,” jelasnya ditemui di Kantor Kelurahan Rejowinangun, Rabu (2/9).

Heroe menjabarkan, pasien  ini adalah pemilik toko kelontong. Profesi aslinya adalah supir kendaraan transportasi lintas wilayah. Upaya tracing masih berlangsung di lingkungan pasien. Terutama yang memiliki kontak erat terhadap kasus.
Dia juga meminta toko tersebut untuk tutup sementara waktu. Selain itu juga mengimbau pelanggan toko melakukan isolasi mandiri. Jika muncul gejala maka wajib memeriksakan diri ke pusat pelayanan kesehatan terdekat.

“Harap lakukan isolasi mandiri bagi yang pernah membeli di kelontong tersebut. Sambil menunggu hasil proses tracing,” pesannya.

Heroe juga menyampaikan perkembangan klaster Soto Lamongan. Hasil uji swab menyatakan adanya dua tambahan kasus. Sehingga akumulasi pasien klaster ini menjadi 13 kasus. Dengan total tracing kontak erat mencapai 25 orang.
Penambahan ini turut berdampak pada persebaran kasus Covid-19. Dari total kasus di Kota Jogja, mayoritas terjadi di lingkup keluarga. Tercatat saat ini ada sembilan keluarga yang terkonfirmasi positif Covid-19.

“Ini adalah fenomena karena sebagian besar OTG. Paling rentan di keluarga karena penerapan protokol covid sangat rendah. Maka wajar jika dalam satu keluarga kena,” ujarnya.

Catatan sembilan keluarga terjadi sejak kemunculan pandemi Covid-19. Diawali oleh keluarga dokter. Lonjakan terjadi dalam kurun waktu sebulan terakhir. Setidaknya ada tujuh keluarga yang menjadi pusat penularan Covid-19.
“Masalahnya saat pasien ini tanpa gejala, saya yakin keluarga ini tidak tahu. Benar 7 keluarga muncul dalam kurun waktu sebulan terakhir,” katanya.

Pakar Epidemiologi UGM Riris Andono Ahmad meminta keluarga memperhatikan protokol Covid-19. Lemahnya penerapan menjadi penyebab utama persebaran dan penularan. Ini karena penerapan protokol cenderung lemah.

Keluarga, lanjutnya, memiliki kontak yang sangat erat. Bahkan penerapan skema ventilasi, durasi dan jarak tak berlaku efektif. Keluarga berada dalam ruangan tertutup lalu terjadi interaksi dalam durasi yang lama. Selain itu juga memiliki jarak kontak yang dekat.
“Karena covid itu transmisinya kontak erat dan berulang. Tidak ada cara lain selain protokol diketatkan. Pulang ke rumah cuci tangan, ganti baju dan mandi. Kalau di luar rumah wajib protokol tinggi,” tegasnya. (dwi/ila)

Jogja Raya