RADAR JOGJA – Sebanyak 50 arca seni dan lukisan kanvas karya Timbul Raharjo ditampilkan dalam pameran tunggalnya Me Myself & I #3. Mengusung sub-tema Transvestite Arts, pameran ini digelar i Museum Sonobudoyo, Gondomanan.

Tema Me Myself & I terdiri dari tiga kata yang bermakna sama yakni ‘keakuan’. Menurut Timbul memiliki tendensi subjektif dan berbahaya bagi perkembangan seni rupa. Sebab dalam diri seseorang belum tentu memiliki kekuatan dalam berbagai bidang dalam mencipta dan mewacanakannya. 

Sedangkan transvestite adalah nilai karya dalam proses penciptaan. Mulai dari penentuan ide sampai pada fungsi karya itu mau dibawa ke mana. Tranvestatite yang berarti waria ini sebagai kata asosiatif yang digunakan dalam penjelasan proses kreasi dalam berkarya Timbul Raharjo. Transvestite arts yang berarti seni banci atau waria arts, adalah ungkapan asosiasitif. Ini sebagai penjelasan penciptaan karya Timbul Raharjo dalam pameran ini.  

“Karya dapat masuk ke fine art dan aplied art, atau masuk dalam posisi di antara keduanya, maka seni ini tidak berkelamin sebab bingung menentukannya. Namun justru menariknya, karya ini kemudian memiliki fleksibilitas yang baik masuk dalam ceruk budaya dan pasar manapun, bersifat transvestite dan lintas budaya dan pasar,” papar Timbul.

Timbul Raharjo membuka dan menerima kritik tentang karya-karyanya. Tujuannya untuk membangkitkan budaya kritik seni rupa Indonesia yang mainstream dan linier. 

“Ungkaplah kejelekan karya saya, karena kebaikan adalah semu dan sering diucapkan oleh orang-orang yang secara baik kita kenal dan pasti nir-konflik, namun sampaikanlah kekurangannya agar aku menyadarinya, maka budaya kritik bisa terlahir kembali”, ungkapnya.

Menurut Timbul, bagus dan tidaknya sebuah karya seni tetap hasil ciptaan seprang perupa yang subjektif dan cerminan kapasitasnya. Pola kritik seni ini sebaiknya dianggap lumrah agar perkembangannya seni rupa Indonesia berkualitas baik.

“Kita mesti tahu kelemahan dan keunggulan kita, kita tahu pewacana yang baik, kita tahu karya terkonsep baik seperti apa, bahkan karya yang laku seperti apa,” tandasnya. (sky/tif)

Jogja Raya