RADAR JOGJA – Nyeri di panggul kerap disepelekan. Sama dengan buang air kecil dengan volume sedikit. Orang Jawa terbiasa menyebutnya anyang-anyangen. Padahal, itu adalah tanda-tanda awal adanya infeksi saluran kemih (ISK). Beberapa orang mungkin baru sadar saat merasa nyeri ketika buang air kecil. Bahkan ada yang baru ke fasilitas kesehatan (faskes) setelah urinenya berwarna merah karena mengandung darah.

ISK dapat menyerang perempuan dan laki-laki. Tapi, mayoritas penderitanya adalah perempuan. Sebab secara anatomi, perempuan memiliki urethra yang pendek. Selain itu perempuan memiliki risiko komplikasi. Di mana awalnya dia mengidap ISK. “Khusus perempuan, saluran kemih, genital, dan pencernaan letaknya berdekatan,” jelas Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kabid Kesmas) Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul dr Fauzan saat ditemui di kantornya, Senin  (31/8).

Letak saluran kemih, genital dan pencernaan yang berdekatan ini membuat bakteri dan kuman mudah berpindah. Dari satu saluran ke saluran lainnya. Kendati masing-masing saluran ini terpisah. “Gangguan pada saluran kencing, dapat berkembang ke saluran reproduksi,” ungkapnya.

Maka, segera berobat pada ahlinya adalah hal yang tepat. Jika tidak, bakteri dan kuman dari pangkal saluran dapat merambat. Akibatnya, bagian tubuh lain di atas saluran, dapat terjangkit penyakit. Pada jaringan saluran kemih, bakteri dan kuman dapat merambat sampai ginjal. “Terjadinya bengkak di kaki, adalah tanda dari ginjal yang terganggu,” jelasnya.

Sementara pada saluran genital, dapat merambat sampai ke sel telur. Lebih parah bila selubung saluran atau peritoneum terjangkit. Sebab bakteri dan kuman dapat menginfeksi organ tubuh secara bebas. “Jangan sampai meremehkan penyakit kecil karena bisa parah dan menimbulkan masalah sosial,” ucapnya.

Oleh karena itu, Fauzan mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan dirinya. Dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Mencakup kebiasaan untuk menjaga kebersihan diri, mengonsumsi makanan bergizi, olahraga rutin dan istirahat cukup.

Secara data, Dinkes tidak mengumpulkan data gejala atau sakit ISK. Tapi kata Fauzan, kecenderungannya bertambah banyak. Ini diduga akibat perilaku masyarakat. “Kalau melihat RS tempat cuci darah, kerusakan ginjal juga meningkat. Dan, pasiennya tambah muda,” sesalnya.

Radar Jogja mencoba bertanya kepada salah satu remaja bernama Zahra Zahira Alamsah. Dia mengaku mendapat materi tentang ISK, ketika duduk di bangku SMP. Pelajar kelas 10 SMA ini dapat menyebutkan langkah pencegahan ISK. Seperti membasuh diri dengan benar, yaitu dari arah depan ke belakang. Banyak mengonsumsi air putih dan tidak menahan diri saat merasa ingin buang air kecil.

Tapi, gadis 15 tahun ini tidak tahu ISK dapat menginfeksi saluran genital. Berikut dapat menyebabkan komplikasi. “Aku malah kurang tahu. Biasanya aku browsing tentang itu pas mengalami saja,” ucap Zahra. (cr2/laz)

Jogja Raya