RADAR JOGJA – Sesuai prediksi, pemilihan kepala daerah (Pilkada) Sleman 2020 bakal diwarnai persaingan antara “emak-emak” dan tokoh muda. Kustini Sri Purnomo berpasangan dengan Danang Maharsa, Sri Muslimatun dan Amin Purnama, serta  Danang Wicaksana Sulistya-Raden Agus Choliq. Tiga pasangan bakal calon bupati-wakil bupati tersebut bisa dipastikan bakal bersaing dalam kontestasi pilkada tahun ini. Itu menyusul terbitnya surat keputusan pencalonan ketiga pasangan oleh masing-masing dewan pimpinan pusat (DPP) partai pengusung.

Pasangan Kustini Sri Purnomo-Danang Maharsa menjadi yang pertama memastikan maju pada kontestasi pilkada tahun ini. Setelah keduanya mendapatkan surat keputusan (SK) rekomendasi dari DPP PDI Perjuangan pada 17 Juli lalu. Disusul SK DPP Partai Amanat Nasional (PAN) tertanggal 27 Juli 2020.

Sedangkan SK rekomendasi DPP Partai Gerindra untuk Danang Wicaksana Sulistya-Raden Agus Choliq diterbitkan 5 Agustus 2020. Belakangan dua tokoh muda yang digawangi Nahdlatul Ulama itu juga mendapat rekomendasi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Kesepakatan tiga partai tersebut diresmikan pada Kamis (27/8) malam di The Westlake Resort, Sleman.

Sementara itu, SK rekomendasi Partai Keadilan Sejahtera diberikan kepada Sri Muslimatun dan Amin Purnama, Sabtu (29/8). Disusul SK Partai Nasdem Minggu (30/8). Sedangkan SK Partai Golkar rencananya akan disampaikan hari ini. Di sela acara Musda DPD Partai Golkar Sleman X yang dihelat di Indoluxe Hotel.

Nama pasangan bakal calon bupati-wakil bupati yang diusung partai beringin memang masih dirahasiakan. Tak satu pun pengurus DPD Golkar Sleman mau membocorkannya. “Kami hanya mengusulkan. Yang mengolah di DPD provinsi,” elak Sekretaris DPD Partai Golkar Sleman Ali Syahdan, Jumat (28/8). Ali menyebut, siapa pun pasangan yang akan diusung Golkar, pengurus DPD Sleman tegak lurus dengan DPD DIJ.  “Mudah-mudahan nama pasangan itu sudah bisa muncul saat musda,” ucapnya.

Kendati demikian, berdasarkan salinan SK DPP Partai Golkar yang diterima Radar Jogja kemarin, rekomendasi itu diberikan kepada pasangan Sri Muslimatun-Amin Purnama. Yakni SK DPP Partai Golkar Nomor: SKEP-308/DPP/GOLKAR/VIII/2020. SK pengesahan calon bupati-wakil bupati Sleman tertanggal 28 Agustus 2020 itu diteken Ketua DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto dan Sekjen Lodewijk F. Paulus.

Hal itu diperkuat pernyataan Ketua DPD Partai Nasdem Sleman Surana. Dia mengatakan, Nasdem, Golkar dan PKS sepakat menyamakan komitmen untuk memenangkan pasangan yang diusung bersama pada Pilkada Sleman 2020. “Munculnya pasangan Sri Muslimatun dan Amin Purnama itu memang terjadi di menit-menit terakhir,” katanya.

Amin Purnama juga mengakui dirinya telah menjadi anggota baru Partai Golkar. Menyusul kepentingan kontestasi Pilkada Sleman 2020. Sosok yang pernah menjadi anggota DPRD Sleman periode 1999-2004 itu dulunya kader PAN. Sampai saat ini Amin mengaku masih aktif di struktural Muhammadiyah.

Sedangkan Ketua DPW Partai Nasdem Subardi menyatakan, SK rekomendasi untuk Sri Muslimatun sudah di tangannya sejak Februari lalu. Namun sengaja disimpan. “Kenapa disimpan, kami menunggu goyangan partai-partai lain dulu,” katanya.

Baru setelah terjalin koalisi dan muncul SK rekom dari partai pengusung lainnya, Nasdem baru mengelurkan surat serupa. Berikut SK untuk Amin Purnama. “Begitu deal dan cukup kursi untuk mengusung. Itu cukup sehari semalam untuk memastikan,” katanya.

Terpisah, Sri Mualimatun mengakui perjalanan politiknya di Pilkada Sleman kali ini cukup panjang. Bahkan, dia sempat diisukan gagal maju pilkada. “Sakit memang rasanya kalau dibilang tak bisa maju (pilkada, Red). Karena Nasdem hanya punya tiga kursi,” katanya. “Tapi ini jalan Allah untuk menguji kekuatan dan keseriusan saya,” sambung sosok yang kini menjabat wakil bupati Sleman itu.

Ihwal munculnya pasangan tokoh muda Danang Wicaksana Sulistya-Raden Agus Choliq, menurut Muslimatun, isu gender bukanlah persoalan. Dia yakin, perempuan juga bisa menjadi pemimpin. “Tergantung kapasitasnya. Rekam jejaknya. Perempuan punya hak sama dengan laki-laki menjadi pemimpin dengan cara yang benar,” ucapnya.

Ben Sleman Ora Ngene-Ngene Wae

Komunikasi partai politik pengusung Danang Wicaksana Sulistya-Raden Agus Choliq berjalan cukup alot. Apalagi Partai Golkar juga pernah menjadi bagian dari rencana koalisi dengan Gerindra dan PKB. Meski akhirnya Golkar pilih jalur sendiri dengan mengusung Sri Muslimatun-Amin Purnama.

Danang menyatakan, keikutsertaannya dalam kontestasi pilkada kali ini karena ingin memajukan Sleman. Terutama pembangunan ekonomi dan sumber daya masyarakatnya. “Ben Sleman ora ngene-ngene wae (Agar Sleman tidak seperti ini terus, Red),” ujar pria kelahiran 4 Januari 1979 itu.

Meski semua partai sudah menentukan pilihan, Danang tetap membuka ruang koalisi dengan partai lain. Untuk menggemukkan koalisi Gerindra, PKB, dan PPP yang dinamai Gerbang Persatuan. Menurutnya, semakin banyak partai koalisi, maka ke depannya pembahasan rencana pembangunan lewat lembaga pemerintah dan DPRD akan lebih mudah. Sehingga proses pembangunan bisa lebih cepat tercapai dan terselesaikan.

Pada kesempatan yang sama, Raden Agus Choliq mengklaim sebagai representasi Nahdlatul Ulama (NU). Dia disokong oleh kiai-kiai sepuh. “Saya hanya manut dan siap maju,” ungkap sosok yang juga menjabat ketua DPC PKB Sleman.

Pernyataan itu menjawab keraguan masyarakat tentang sikap Agus Choliq terkait munculnya tiga pasangan di Pilkada Sleman. Sebab, Agus Choliq sempat disebut-sebut lebih merasa mantap mencalonkan diri sebagai pendamping Danang Wicaksana Sulistya jika hanya ada dua pasangan yang maju sebagai calon bupati-wakil bupati. Sehingga terjadi head to head seperti Pilkada Sleman 2015. Faktanya, sosok asli Sleman kelahiran 14 April 1973 itu justru yakin bisa unggul dengan munculnya tiga pasangan pada pilkada serentak 9 Desember mendatang. (yog/laz)

Jogja Raya