RADAR JOGJA – PKS DIJ ingin sapu bersih dalam pelaksanaan pilkada di DIJ. Pada 2017 lalu sudah berhasil menempatkan pasangan yang diusung menjadi Wali Kota dan Wakil Wali Kota Jogja serta Bupati dan Wakil Bupati Kulonprogo.

Pada pilkada 2020 ini ditargetkan juga menjadi pemenang di Sleman, Bantul dan Gunungkidul. Karena itu DPP PKS sudah memberikan surat keputusan untuk mengusung paslon Sutrisna Wibawa dan Mahmud Ardi Widanto di Gunungkidul, Suharsono dan Totok Sudarto di Bantul. Yang terakhir Sri Muslimatun dan Amin Purnama untuk Pilkada Sleman.

“Targetnya menyempurnakan kemenangan di tiga pilkada ini, seperti dalam pilkada sebelumnya,” kata Ketua DPW PKS DIJ Darul Falah dalam keterangan pers usai menggelar rapat nasional dan pemenangan pilkada serentak 2020 di DPW PKS DIJ, Sabtu (29/8).

Sikap optimis PKS juga didasari hasil survei yang sudah dilakukan. Hasilnya, kata Falah, ketiga paslon yang diusung PKS semuanya unggul dibandingkan paslon lainnya.

Selain itu juga berdasarkan kesiapan mesin pemenangan yang sudah membentuk jaringan hingga tingkat dusun. “Dalam pemilu legislatif 2019 lalu, perolehan suara PKS juga menduduki peringkat kedua di DIJ,” tuturnya.

Meski diakuinya, pelaksanaan pilkada kali ini akan berbeda dengan pilkada-pilkada sebelumnya. Karena digelar pada masa pandemi Covid-19.

Di antaranya larangan kampanye tatap muka. Terkait itu, PKS sudah menyiapkan tim teknis di bidang digital sebagai solusinya. “Karena larangan kampanye terbuka, tapi yang jelas kami minta pandemi ini sebagai momentum untuk memberikan program kampanye yang solutif,” tuturnya.

Terkait dengan tiga paslon yang diusung, Falah menyebut, merupakan paslon terbaik hasil penjaringan selama setahun terakhir ini. Keputusan dari DPP PKS pun sudah final.

Dalam pilkada nanti, PKS mengusung dua petahana yaitu Suharsono di Bantul dan Sri Nuslimatun di Sleman. Sedang di Gunungkidul, rektor UNY Sutrisna Wibawa yang dipilih. “Paslon yang dipilih sudah mempertimbangkan kapasitas dan kredibilitas,” jelasnya.

Kenapa tidak ada kader internal PKS di DIJ yang maju? Falah mengatakan, sebenarnya ada beberapa kader yang digadang maju sebagai calon bupati maupun wakil bupati.

Hanya dia menyebut, adanya peraturan terkait anggota legislatif yang akan mencalonkan diri menjadi kepala daerah menjadi kendalanya. Tapi dia mengatakan, para paslon paling tidak merupakan simpatisan PKS.

“Tidak tahu nanti jika Profesor (Sutrisna Wibawa) jadi kader, mahasiswanya sudah banyak yang jadi kader,” katanya kepada Sutrisna Wibawa yang duduk di sebelahnya.

Dalam kesempatan tersebut Sutrisna Wibawa mengaku, pilihannya mendaftarkan diri menjadi cabup Gunungkidul dari PKS karena sudah terbukti integritas, kebenaran, solidaritas hingga menjaga kesantunan, serta nilai-nilai yang diperjuangkan PKS selama ini.

Semangat yang sama yang akan dipakainya saat berkampanye nanti. “Paslon lain bukan kompetitor, bukan lawan, hanya sama-sama berjuang menunjukkan yang terbaik, nantinya biar rakyat yang memilih,” tuturnya.

Dia pun menjelaskan alasannya untuk maju dalam pilkada nanti sebagai upaya memajukan Gunungkidul. Dia mengaku sebagai profesor anak singkong. Karena berasal dari desa.

“Setelah 34 tahun melanglang ke berbagai forum nasional dan internasional, kini saatnya saya berbakti untuk Gunungkidul,” ujarnya. (pra/ila)

Jogja Raya